Imbas Krisis AS, Praktik Dumping Bakal Marak

Imbas Krisis AS, Praktik Dumping Bakal Marak

- detikFinance
Senin, 06 Okt 2008 13:50 WIB
Imbas Krisis AS, Praktik Dumping Bakal Marak
Jakarta - Dampak krisis finansial AS bagi sektor perdagangan dunia diperkirakan akan memicu banyak negara untuk menggenjot ekspornya sebagai antisipasi likuiditas keuangan masing-masing negara.

Upaya menggenjot ekspor tersebut bisa dilakukan dengan melakukan strategi dumping ke pasar-pasar potensial termasuk Indonesia.

Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Senin (6/10/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan kondisi sekarang, impor akan banyak masuk melalui dumping, pasti semua negara akan melakukan cara ini, termasuk dengan non tarif. Ancaman terbesar dari China," jelas Sofjan.

Ia memperkirakan ekspor Indonesia dalam waktu 3 bulan ke depan akan semakin sulit, terlebih lagi harga komoditas seperti CPO yang selama ini menjadi andalan Indonesia kian luruh. Indonesia, lanjut Sofjan, harus mampu membuka pasar baru dan memaksimalkan pasar domestik.

"Dalam waktu 3 bulan ke depan ekspor akan terancam, karena ada kontrak baru, ini akan sulit. Tahun 2009 ekspor kita akan terganggu kita  tidak akan tahu sejauh mana dalamnya," imbuhnya.

Ia juga meminta kepada pemerintah agar melakukan pengetatan impor untuk barang-barang yang tidak perlu termasuk barang-barang mewah (luxury goods) seperti mobil-mobil mewah dan lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) MS Hidayat saat dihubungi, mengatakan untuk mengantisipasi  penurunaan permintaan ekspor dan penurunan harga komoditas perlu adanya langkah-langkah seperti diversifikasi pasar, mempererat hubungan bilateral dan multilateral antar negara.

"Perlu diversifikasi pasar, pemerintah dan swasta harus mencari peluang baru, pasar baru dengan peningkatan hubungan bilateral. Domestik market perlu diperkuat terutama menahan laju impor barang-barang yang tidak perlu," ujarnya.

Meskipun menurutnya untuk barang impor seperti bahan baku barang modal untuk keperluan industri masih diperlukan sehingga tidak perlu direm. (hen/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads