Pada perdagangan Senin (6/10/2008) di Asia, kontrak New York untuk minyak jenis light pengiriman November sempat anjlok hingga US$ 89,96 per barel, sebelum akhirnya ditutup anjlok 3,43 dolar ke level US$ 90,45 per barel. Sementara minyak jenis Brent merosot 3,70 dolar ke level US$ 86,55 per barel.
"Saya kira ini hanya kelanjutan dari penurunan tajam yang sudah Anda lihat," kata Jason Feerm vice presiden energy market analysts Argus Media di Singapura seperti dikutip dari AFP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Risiko pelemahan ekonomi sejumlah negara yang kemungkinan berlanjut ke resesi di beberapa negara berkembang telah meningkat, sebagai hasil dari tekanan-tekanan yang terjadi di sistem finansial akhir-akhir ini," ujar David Moore, analis komoditas dari Commonwealth Bank of Australia.
"Jika ada sejumlah pelemahan di ekonomi internasional, maka harga minyak akan lebih lemah dari perkiraan," tambahnya.
Harga minyak mentah telah turun dari level tertingginya di US$ 147 per barel pada pertengahan Juli lalu, seiring krisis finansial yang semakin memuncak dan menelan banyak korban. Krisis itu dikhawatirkan terus menurunkan permintaan.
Menteri Perminyakan Iran, Glolam Hossein Nozari sebelumnya mengatakan, harga minyak di bawah US$ 100 per barel tidaklah nyaman.
"Harga minyak kurang dari US$ 100 tidak nyaman bagi setiap orang baik produsen maupun konsumen," ujarnya tanpa merinci. (qom/ir)











































