Penetapan HPP yang melampaui harga beras di pasar Internasional berpotensi menggagalkan rencana ekspor beras Indonesia pada tahun 2009. Padahal ke depannya pemerintah akan menerapkan pengamanan neraca pembayaran dan menggenjot ekspor sebagai antisipasi krisis finansial global.
"HPP baru jangan menyebabkan posisi harga beras Indonesia lebih tinggi dari harga berasΒ Thailand dan Vietnam. Kalau ini terjadi maka akan mempengaruhi rencana ekspor di tahun 2009," ungkap Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar ketika ditemui di kantornya di Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (6/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Yang kita harapkan petani jangan beralih profesi, tapi jangan juga kita abaikan pasar global karena ada peningkatan produksi disana," ungkapnya.
Ia menambahkan belakangan ini produksi beras di negara-negara produsen beras seperti Vietnam, Thailand dan lainnya mengalami peningkatan. Terlebih lagi konsumsi impor beras Indonesia mulai turun, pada akhirnya berdampak pada harga beras yang mulai luruh.
"Insentif terhadap petani harus tetap diberikan seperti subsidi petani, yaitu subsidi pupuk, subsidi benih," paparnya.
Hingga kini pemerintah dan Bulog sedang menghitung berapa kenaikan HPP beras dan gabah yang rencananya akan di berlakukan paling lambat awal tahun 2009.
"Belum ada usulan, kita masih bicarakan dengan tim bersama depdag," jelas Mustafa.
Pada April tahun ini pemerintah telah menaikan HPP gabah kering panen dari Rp 2.000 per kilo menjadi Rp 2.200 per kilo, gabah kering giling dari Rp 2.600 menjadi Rp 2.840 per kilo. Untuk harga beras digudang Bulog dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.300 per kg. (hen/ir)











































