Krisis AS Goncang Industri Hulu Migas RI

Krisis AS Goncang Industri Hulu Migas RI

- detikFinance
Selasa, 07 Okt 2008 14:45 WIB
Krisis AS Goncang Industri Hulu Migas RI
Jakarta - Krisis finansial global dipastikan akan mengganggu aktivitas produksi minyak. Para perusahaan minyak skala kecil akan kolaps sehingga industri hulu minyak akan dikuasai perusahaan-perusahaan kelas kakap.

Demikian disampaikan Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin di sela silaturahmi BP Migas di Kantor BP Migas, Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (7/10/2008).

Menurutnya, para perusahaan minyak baik yang skala kecil maupun besar pasti akan menghitung ulang pendanaan dan rencana kegiatannya. Di saat kucuran dana akan menjadi seret, hanya perusahaan yang memiliki modal kuatlah yang bisa bertahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perusahaan harus melakukan hitungan-hitungan ulang, baik pendanaan, scheduling, dan lainnya. Perusahaan besar punya cash flow bagus, aktifitasnya nggak terganggu. Sedangkan perusahaan kecil yang banyak tergantung pada pendanaan luar, sehingga mereka akan sangat terganggu," ujarnya.

Bahkan Muin memprediksi, bukan tidak mungkin perusahaan minyak yang tidak bisa bertahan akan menghentikan atau menunda kegiatan ekslorasinya dan menjual aset-aset di luar bisnis intinya.

Jika keadaan makin memburuk dan perusahaan minyak yang kolaps tidak jua mendapatkan pendanaan murah, maka dibutuhkan konsolidasi atau bisa saja terjadi akuisisi oleh perusahaan yang lebih besar.

"Jadi secara bargaining position, struktur perusahaan-perusahaan migas itu akan dikendalikan oleh perushaan besar atau produsen besar seperti OPEC," lanjutnya.

Sedangkan terkait Pertamina, menurut Muin, BUMN migas ini termasuk kuat dalam permodalan dari internalnya, sehingga tidak akan terpengaruh secara signifikan.

Sebagai langkah antisipasi, Kepala BP Migas R Priyono menyatakan, pihaknya akan mendekati beberapa sumber pendanaan untuk membantu perusahaan minyak skala menengah ke bawah.

Hal ini dilakukan agar perusahaan minyak tetap beraktivitas di Indonesia untuk meningkatkan produksi minyak nasional.

"Indonesia tidak memiliki pilihan, karena kebutuhan dalam negeri juga masih tinggi, jadi produksi banyak juga nggak ada masalah. Karena kebutuhan kita 1,3 juta barel, sedangkan produksi hanya 900 ribu-1 juta bph, jadi kalau mau naik 100 ribu juga nggak masalah," katanya.

Sedangkan terkait harga minyak, Priyono menyatakan harga minyak yang masih bisa diterima adalah sekitar US$ 90-100 per barel. "Kalau diatas US$ 120 agak bahaya," katanya.

(lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads