Pelaku Usaha Harus Siap Hadapi Krisis

Pelaku Usaha Harus Siap Hadapi Krisis

- detikFinance
Selasa, 07 Okt 2008 18:12 WIB
Pelaku Usaha Harus Siap Hadapi Krisis
Jakarta - Para pelaku ekonomi diingatkan untuk siap menghadapi dampak krisis ekonomi di AS dengan sungguh-sungguh karena krisis ini akan berimbas pada sektor usaha ekspor dan impor.

"Ajakan SBY selaku kepala negara kepada kita semua, khususnya pelaku ekonomi, swasta dan BUMN layak disambut baik dan sungguh-sungguh," kata  pengamat ekonomi dari UI Darwin Zahedy Saleh, yang juga salah satu Ketua DPP Partai Demokrat kepada wartawan via telepon di Jakarta, Selasa (7/10/2008).

Menurut Darwin, krisis keuangan global niscaya akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Pengaruh ini khususnya bagi aktivitas yang banyak bergantung pada ekspor dan impor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, lanjut Darwin, juga akan berpengaruh pada aktivitas pasar modal dan lebih jauh lagi dapat berpengaruh pada ketersediaan kredit bagi kepentingan dunia usaha. Keberadaan likuiditas investor asing yang masuk melalui pasar modal, yang kemudian disimpan dalam berbagai bentuk deposito akan ikut berkurang.

"Karena para investor kini sibuk mereposisi arah dan strategi investasinya. Tapi, kita perlu memilah-milah aspek mana yang perlu dikhawatirkn, dan mana yang tidak," jelasnya.

Darwin juga menganjurkan agar ekspor Indonesia secepatnya perlu didiversifikasi, baik tujuan maupun jenisnya. Jadi jangan terus bergantung pada kekuatan tiga pasar utama, yaitu AS, Jepang, Uni Eropa.

Begitu pula dengan usaha impor yang perlu lebih selektif dilakukan, karena mengimpor suatu produk hanya akan menguntungkan perekonomian bangsa lain dan memperlemah produk di dalam negeri. "Terlalu banyak kita mengimpor barang jadi, termasuk buah-buahan dari luar negeri," tandasnya lagi.

Darwin menegaskan, seharusnya perusahaan swasta besar dan BUMN berkepentingan untuk memperkuat perekonomian Indonesia. "Kalau tidak, mana bisa daya serap pasar dalam negeri bangkit dan tumbuh  besar. Bank-bank plat merah harus tetap menjalankan perannya sebagai agen pembangunan, sekalipun mereka itu persero," ujarnya.

Darwin memahami banyak bankir plat merah terkesan alergi pada sektor industri yang justeru sangat melibatkan banyak tenaga kerja, seperti industri makanan dan tekstil. "Dapat dimaklumi kalau bankir hati-hati dengan industri tertentu, karena persoalan struktural. Tetapi, para bankir plat merah itu mengemban amanah untuk turut memajukan sektor industri menengah ke bawah ini," ucapnya.

Darwin menambahkan, para bankir perlu duduk bersama dengan kalangan industri, perdagangan dan BI untuk mengidentifikasi perusahaan dan sektor mana yang perlu diprioritaskan. Selain itu, program KUR yang kini sudah mencapai banyak kemajuan harus terus dikembangkan agar target Rp 14 triliun bagi kredit kalangan usaha mikro dan kecil tercapai. (zal/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads