"Pada rakyat agar mengerti sistem telah dan terus bekerja. Kita tahu mana yang harus diutamakan dan lindingi. Kita mengelola semua dampak krisis pada semua aspek perekonomian kita," jelas SBY di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/10/2008).
"Harus diyakini benar oleh rakyat kita bahwa pemerintahnya terus kelola dan bekerja. Tidak perlu ada kepanikan-kepanikan yang tidak semestinya sehingga dampaknya bisa kita minimallkan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menunjukkan sistem telah dan terus kerja. Kita nggak hanya memantau dan antisipasi, tapi juga mengambil policy respons semestinya," jelas Presiden usai Rapat Terbatas.
Presiden menambahkan, dalam 3 hari terakhir ini terlah terjadi banyak dinamika yang merupakan bagian kirisis global. Pemerintah pun harus melakukan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter.
"Kita tetap mengendalikan situasi dengan baik, bahwa ada dinamika di pasar modal, ya kita tahu di bagian lain dunia juga mengalaminya. Maka pioritas pemerintah adalah mengambil pelajaran krisis 1998," katanya.
Langkah-langkah prioritas itu adalah:
Pertama, mengutamakan proteksi rakyat kecil. Memastikan kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, pendidikan dan layanan publik lainnya tidak mengalami gangguan.
"Karenanya program penanggulangan kemiskinan, 3 kluster dan peningkatan kesejahteraan, jalan terus. Di dalam APBN 2008 anggarannya harus tetap mengalir," jelas presiden.
Dalam APBN-P 2008, terdapat Rp 290 triliun belanja kementerian dan lembaga untuk pos social safety net. Dari jumlah itu, menurut presiden, terdapat Rp 25,9 triliun yang akan dipercepat pengeluarannya pada Oktober ini. Dengan demikian, maka sudah 60% dana APBN 2008 yang cair.Β Ini merupakan likuiditas untuk menjamin terus bergeraknya pembangunan.
"Sehingga ini bisa menjawab bila kita alami kesulitan likuiditas pembiayaan pembangunan kita. Sebaiknya hingar bingar krisis financial krisis ini tidak mengusik pembanguanan yang dibayai APBN kita. Itu yang jadi konsentrasi kita," tegas Presiden.
Kedua, memastikan sektor riil terus bergerak.
"Maka dalam 3 hari ini saya berkomunikasi dengan pengusaha nasional agar mereka tidak
disorientasi. Pemerintah dan perbankan memastikan ada likuiditas dan kredit agar sektor riil tetap terjaga. Tapi kalaupun 2009 ada penurunan ekspansi, itu bisa dimengerti," urai presiden.
Ia menambahkan, pemerintah sudah belajar dari krisis finansial global sejak krisis 1930
sampai 1998 sehingga arah pembangunan ekonomi Indonesia bisa benar.
"Kita harus menggunakan benar sumber daya yang kita miliki sendiri, termasuk sumber pembiayaan dalam negeri. Ekonomi dalam negeri kita perkuat, pasar domestik kita perkuat," tambahnya.
Ketiga, terkait gonjang-ganjing pasar saham dan fiskal, banyak hal yang berada di luar jangkauan pemerintah karena harus tunduk pada hukum global.
"Tapi terus dampaknya kita minimalkan," pungkasnya. (lh/qom)











































