Dana Proyek 10.000 MW di Luar Jawa Terancam

Dana Proyek 10.000 MW di Luar Jawa Terancam

- detikFinance
Rabu, 15 Okt 2008 11:45 WIB
Dana Proyek 10.000 MW di Luar Jawa Terancam
Jakarta - Proyek-proyek pembangkit listrik 10.000 MW bakal terancam pengetatan keuangan perbankan dalam negeri. Terutama proyek-proyek yang berada di luar Jawa karena umumnya para kontraktornya adalah pemain lokal yang mengandalkan dana perbankan dalam negeri.

"Yang kita khawatirkan adalah yang di luar Jawa yang umumnya kontraktor lokal, apakah modal kerja mereka cukup? Terkait perbankan dalam penyaluran kredit, tentunya ada pengetatan," kata Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar dalam seminar hari listrik nasional ke-63 di kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (15/10/2008).

Ia sangat mengharapkan pada saat pengetaan likuiditas saat ini perbankan harus mendukung secara penuh program-program kelistrikan termasuk 10.000 MW karena menyangkut kepentingan nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini yang menurut saya perlu diperhatikan oleh perbankan nasional, bagaimana perbankan kita menyikapi khusus untuk proyek kelistrikan agar benar-benar terjadi karena ini program pemerintah. Saya cenderung bagaimana perbankan kita menyikapi program 10.000 MW secara khusus karena ini proyek percepatan yang pemerintah pun berkepentingan," harap Fahmi.

Mengenai kemungkinan akan dilakukan penjadwalan terkait hal-hal yang dapat menggangu rencana program ini termasuk masalah pendanaan. Fahmi mengaku sampai saat ini belum ada penjadwalan ulang, dan masih sesuai dengan rencana.

"Semua masih dalam on the track, kekhawatiran itu masih di luar Jawa karena di Jawa itu porsi internasionalnya lebih banyak makanya kita lebih optimis. Size Jawa Bali lebih besar sehingga penanganan krisis Jawa Bali lebih sulit dari yang diluar, karena lebih kecil size-nya," ucapnya.

Menurutnya pendanaan 10.000 MW hampir 85% berasal dari luar termasuk dari China dan 15% oleh PLN. Hingga kini pendanaan program kelistrikan 10.000 MW, dari dana valas yang dibutuhkan US$ 4,3 miliar sudah memperoleh komitmen US$ 2,5 miliar. Sedangkan dari dana rupiah dari Rp 17 triliun sudah Rp 13 triliun yang mendapatkan komitmen pendanaan. (hen/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads