Siapa yang menyangka kalau kalau saat ini harga tanda buah segar (TBS) anjlok di pasaran dunia. Hal itu berimbas secara nasional yang membuat keterpurukan ekonomi para petani sawit terutama petani di luar binaan pola bapak angkat yang dilakukan perusahaan skala nasional.
Sejumlah petani sawit mengaku, untuk memenuhi kebutuan sehari-hari saja dalam hitungan dua bulan terakhir ini sudah sangat sulit. Petani sawit Hasan Junaidi (54), warga Kabupaten Bengkalis, Riau misalnya. Bapak empat orang anak itu mengaku memiliki luas kebun sawit 4 hektar. Ketika harga normal, setipa bulannya mampu mengantongi hasil penen minimal Rp 7 juta perbulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasan mengaku, dia mengambil kredit sebanyak itu membeli sepeda motor untuk anaknya yang kuliah di Pekanbaru. Selebihnya untuk biaya sekolah anak-anaknya serta membeli sejumlah alat elektronik untuk kebutuhan rumah tangganya.
"Sekarang ini dengan anjloknya harga sawit, kami hanya dapat meraih keuntungan Rp 1,4 juta per bulan. Utang memang masih tertutupi, tapi biaya makan kami dari mana lagi. Kita stress dibuat anjloknya harga sawit ini," kata Hasan, Rabu (15/10/2008).
Lantas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kini petani sawit itu terpaksa alih profesi menjadi tukang ojek. Usaha sampingan yang dia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. "Apa boleh buat, saya sekarang ngojek biar dapat makan," keluh Hasan.
Nasib yang sama juga dialami Ihasan Siregar (40) warga Kabupaten Kampar, Riau. Bapak dari tiga orang anak yang memiliki kebun sawit seluas dua hektar itu juga menggadaikan surat tanahnya ke bank. Sebelum harga anjlok, setiap bulannya dia bisa berpenghasilan Rp 3,5 juta. Dengan harga anjlok, Ihasan hanya dapat berpenghasilan Rp 800 ribu/ bulan.
"Tiga tahun lalu saya mengutang ke bank sebanyak Rp 30 juta. Dana itu untuk membeli lahan kosong untuk menambah luas kebun sawit. Sekarang untuk menutupi kredit saja susah. Terus terang sebulan ini saya bekerja sebagai buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup," kata Ihsan Siregar. Kedua sosok petani sawit ini, hanyalah gambaran dari kepedihan yang mendera ratusan petani sawit.
(cha/qom)











































