"Salah satu solosi untuk membantu keterpurukan para petani sawit atau petani karet yang saat ini harganya anjlok, pemerintah harus segara memikirkan untuk mensubsidi semua kebutuhan pupuk. Kalau tidak, para petani kita akan terus terpuruk," kata Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Riau, Wisnu Soeharto dalam perbincangan dengan detikFinance, Rabu (15/10/2008).
Dia menjelaskan, selain anjloknya harga sawit di pasaran internasional, petani sawit di Indonesia juga dihadapkan dengan tinggi harga pupuk. Tinggi harga pupuk saat ini tidak lagi sebanding dengan penghasilan panen buah kelapa sawit. Padahal satu sisi, hasil panen kelapa sawit sangat tergandung dengan pemupukan yang harus dilakukan secara rutin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila pemerintah pusat dan daerah tidak segara mengatasinya dengan solusi memberikan subsidi harga pupuk, maka sampai kapan pun perekonomian petani sawit mandiri di luar binaan pengusaha akan tetap terpuruk.
"Harga pupuk paling murah untuk Rp 400 ribu per sak dengan berat 30 kg. Perkebunan sawit normalnya harus dipupuk dalam jangka waktu tiga bulan sekali. Dengan harga yang begitu tinggi, sekali memupuk petani harus mengeluarkan dana belasan juta. Itu tidak sebanding dengan penghasilan sawit yang mereka panen," kata Wisnu.
Wisnu menjelaskan, bila kebun sawit tidak dilakukan pemupukan secara rutin, hal itu juga akan berimbas dengan harga. Selain hasilnya panen semakin sedikit, pabrik kelapa sawit juga akan memberikan harga yang rendah karena buah yang tidak berkwalitas.
"Jadi persoalan pupuk menjadi problem yang serius buat petani. Selama ini pemerintah kita lalai soal harga pupuk yang melambung tinggi. Jadi solusinya tidak ada jalan lain, terkecuali pemerintah segara memberikan semua jenis pupuk bersubsidi kepada petani," terang Wisnu.
(cha/qom)











































