Demikian disampaikan Menko Perekonomian sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat kabinet di Kantor Setneg, Jalan Majapahit, Jakarta, Rabu (15/10/2008).
"Kita akan mengalihkan pada akhir dan awal minggu depan untuk masuk membantu dan memetakan sektor riil, terutama yang memiliki peranan yang penting dalam ekspor dan penciptaan lapangan kerja yang harus dibuat sestabil mungkin, semua usaha, SME (Small Medium Enterprises/UKM), big company dan across the region," papar Menkeu panjang lebar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak hanya melihat harga saham harian, tapi tren seluruh indikator, sisi ekspor, impor, nilai tukar dan kondisi perusahaan," ujarnya.
Sementara Ketua Umum Kadin MS Hidayat mengatakan, jika memang pertumbuhan ekonomi harus tumbuh 6% sesuai dengan asumsi baru yang disepakati dengan DPR, maka harus ada beberapa syarat yang dipenuhi.
"Sektor riil harus jalan, daya beli dalam negeri dipertahankan, capital inflows untuk invesment harus terjadi. Itu semua bisa terwujud kalau kita lakukan efisiensi, pembenahan dan tidak ada kompromi," jelasnya.
Menurut Hidayat, jika dalam situasi krisis masih ada pebisnis yang lancar-lancar saja, maka pada tahun depan Indonesia akan memiliki keunggulan dari daya tahan.
Komitmen Bank Dunia
Terkait dengan komitmen US$ 5 miliar dari Bank Dunia untuk Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia saat ini memang membuka opsi untuk pembiayaan yang kecil dari sisi bunga dan risikonya.
Yang pasti, dalam RAPBN 2009 yang masih dibahas dengan DPR, defisit diturunkan menjadi 1% dengan nilai separuh dari APBN awal atau berarti tinggal Rp 54 triliun.
"Jadi kebutuhan financing jadi sangat-sangat kecil dibandingkan skenario awal. Kita bahas dan rintis apakah dari Bank Dunia, ADB atau bilateral, IDB, itu merupakan pilihan. Tentu saja karena jumlah defisit kita kecil, semuanya jadi sangat manageable," pungkasnya.
(qom/ddn)










































