Menkeu: RAPBN 2009 Mengandung Sense of Crisis

Menkeu: RAPBN 2009 Mengandung Sense of Crisis

- detikFinance
Kamis, 16 Okt 2008 07:37 WIB
 Menkeu: RAPBN 2009 Mengandung Sense of Crisis
Jakarta - Pemerintah mengakui kesulitannya untuk menyusun RAPBN 2009 di tengah kondisi krisis finansial yang berdampak pada melemahnya ekonomi dunia. Pemerintah pun menyusun RAPBN yang penuh sense of crisis.

Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat di Gedung DPR/MPR, Rabu (15/10/2008) malam, mengatakan dalam pembahasan RAPBN 2009 terjadi beberapa kali perubahan asumsi makro akibat situasi yang sangat dinamis, seiring dengan bergejolaknya perekonomian dunia.

"Perubahan asumsi RAPBN 2009 mengandung sense of urgensi dan sense of crisis karena kita melihat memang suasana sangat dinamis. Jadi dari mulai sebelumnya pemerintah membahas nota keuangan begitu banyak hal yang terjadi di dunia ini. Sehingga dalam suasana dunia yang berubah sangat dinamis dan dramatis dan bahkan fundamental, proyeksi menyusun anggaran 2009 menjadi makin rumit," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sri Mulyani mengatakan volatilitas harga minyak dunia yang cukup tinggi menjadi salah satu sebab sulitnya menghitung besaran asumsi harga minyak yang pas karena situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

"Kami memberikan contoh harga minyak saat kami menyusun kerangka ekonomi makro bulan Maret itu capai US$ 140 per barel, kemudian waktu nota keuangan harganya sekitar US$ 130 per barel, waktu dibahas di DPR sudah masuk US$ 110 per barel, sekarang kita baru menyelesaikan Panja (Panitia Kerja) sudah turun US$ 80 per barel, jadi harga minyak yang selalu kita asumsikan berubah sangat dramatis seperti roller coster dalam 6 bulan ini," urainya.

Pemerintah dan DPR sepakat juga untuk menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 6,3% menjadi 6%. Menurut Sri Mulyani, penurunan ini menunjukkan sinyal yang baik bahwa pemerintah akan terus mendorong perekonomian.

"Ini menunjukkan sinyal DPR dan Pemerintah bersama menginginkan walau krisis global terjadi ingin pertumbuhan ekonomi tidak terganggu, itu adalah suatu sinyal yang ingin diberikan," jelasnya.

Menurutnya meskipun pertumbuhan ekonomi turun, namun masih menunjukkan optimisme Indonesia bisa bertumbuh di tengah guncangan krisis global yang terjadi.

"Jadi Indonesia tetap optimis dan hati-hati dalam situasi krisis yang terjadi. Sumber pertumbuhan ekonomi, walaupun kita tahu ada risiko global kepada ekspor, namun investasi bisa berjalan dengan sehat," tegasnya.

Ia melanjutkan, saat ini BI ingin perbankan merasionalkan ekspansi kredit sehingga tidak menimbulkan stress dalam neraca perbankan namun masih cocok dengan target pertumbuhan 6%. Pemerintah akan terus menjaga kestabilan harga agar ada peningkatan daya beli masyarakat," katanya.

Pemerintah dan DPR telah menyepati sejumlah asumsi baru untuk RAPBN 2009 yakni:
  1. Pertumbuhan ekonomi direvisi dari 6,3% menjadi 5%
  2. Inflasi menjadi 6,2%
  3. Nilai tukar rupiah 9.400 per dolar AS
  4. SBI 3 Bulan menjadi 7,5%
  5. Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 85 per barel.


(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads