"Sekarang harga karet kami sudah tidak sebanding lagi dengan harga beras. Harga beras paling murah Rp 5.000/kg, karet kita hanya Rp 4.000/kg. Ini kan tekor. Penghasilan kami jauh berkurang terakhir-akhirΒ ini," keluh Suman (40) petani karet di Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (16/10/2008).
Suman pemilik kebun karet seluas empat hektar itu mengaku, biasanya dalam sepekan dia dapat berpenghasilan minimal Rp 2,3 juta. Namun belakangan ini, penghasilannya menurun dratis hanya mampu mengantongi dari menjual karetnya Rp 850 ribu dalam sepekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain harga karet yang anjlok, para petani juga dihadapkan persoalan harga pupuk yang melambung tinggi. Melambungnya harga pupuk di pasaran tidak mampu lagi dijangkau para petani. Alhasil, sebagian petani karet memilih kebun mereka tidak dipupuk.
"Selain harga anjlok, kita tidak mampu membeli pupuk karena mahalnya. Ladang karet pun tidak kita pupuk. Imbasnya produksi karet pun menurun dratis hingga 50 persen karena tanpa pupuk," keluh Yusuf (36) petani karet Desa Rimbau Panjang, Kabupaten Kampar yang berbatasan dengan Pekanbaru.
Para petani karet berharap, pemerintah dapat mencari solusi atas keterpurukan harga karet serta melambungnya harga pupuk. Pupuk subsidi yang selama ini diberikan pemerintah pun tidak pernah petani terima. Pupuk subsidi di Riau selama ini banya dipermainkan para agen resmi dengan cara mengganti karung pupuk subsidi menjadi non subsidi. (cha/ir)











































