SBY Harap 'Crisis Fund' Arroyo Sejalan dengan Chiang Mai

SBY Harap 'Crisis Fund' Arroyo Sejalan dengan Chiang Mai

- detikFinance
Kamis, 16 Okt 2008 15:00 WIB
SBY Harap Crisis Fund Arroyo Sejalan dengan Chiang Mai
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap 'Crisis Fund' yang digulirkan oleh Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo sejalan dengan tindakan antisipasi krisis yang tertuang dalam Chiang Mai Initiative yang selama ini berjalan.

"Posisi Indonesia tentu menunggu seperti apa yang dipikirkan oleh Presiden Arroyo. Syukur-syukur bisa klop dengan Chiang Mai Initiative," ujarnya  Presiden SBY di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/10/2008).

Menurut SBY, Chiang Mai Initiative yaitu pengumpulan dana dari negara kawasan ASEAN yang dengan syarat tertentu membantu negara-negara yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Negara yang mengalami krisis moneter bisa mengajukan dana ke forum ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sedang berjalan, bagaimana merumuskan aturannya, aturannya," ujarnya.

Posisi Indonesia, lanjut Presiden SBY, pemerintah akan menyimak terlebih dulu apa yang mau dibuat dengan pooling sumber keuangan bersama itu.

"Meski demikian kita berpendapat, sambil mendengar usulan Filipina, mari kita realisasikan apa yang pernah dirumuskan dalam Chiang Mai Initiative. Indonesia ingin mendayagunakan betul asosiasi ini (ASEAN) dan ASEAN plus 3 untuk memelihara stabilitas perekonomian global," ujarnya.

Belajar dari krisis keuangan yang mendera Asia pada tahun 1997-1998, negara di Asia akhirnya sepakat membentuk skema perlindungan mata uang dengan pertukaran devisa yang disebut Chiang Mai Initiative (CMI), skema ini berupa bilateral swap agreement (BSA).

13 Negara Asia sebelumnya sepakat mengumpulkan dana hingga US$ 80 miliar untuk mengatasi krisis keuangan di Asia. Dengan kumpulan dana yang disebut, maka jika 1 negara mengalami kesulitan likuiditas, maka negara tersebut bisa meminjam sejumlah dana.  

Pada pertemuan ADB tahun lalu di Jepang pada Mei 2007, negara-negara Asia sepakat untuk menyisihkan cadangan devisa mereka untuk membentuk cadangan devisa multinasional yang bisa digunakan oleh negara anggota yang tengah mengalami krisis keuangan. Saat itu jumlah dananya belum ditentukan, namun kini negara Asia sepakat untuk mengumpulkan dananya hingga US$ 80 miliar. (lh/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads