Pertamina: Tidak Ada Yang Janggal dari Impor Zatapi

Pertamina: Tidak Ada Yang Janggal dari Impor Zatapi

- detikFinance
Jumat, 17 Okt 2008 13:36 WIB
Pertamina: Tidak Ada Yang Janggal dari Impor Zatapi
Jakarta - Pertamina menyatakan impor minyak mentah jenis Zapati merupakan keputusan yang sudah dibahas di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dirut Pertamina Ari Soemarno menegaskan tidak ada yang janggal dalam impor minyak itu.

"Tidak ada semua sudah jalan dan diproses minyaknya ada harganya paling rendah diukur tidak ada kerugiannya malah ada keuntungan yang diperoleh lebih untung daripada proses minyak yang lebih mahal. Itu kan hasil tender," ujarnya ketika akan bertemu dengan Menneg BUMN di kantor BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (17/10/2008).

PertaminaΒ  alam RUPS tersebut sudah dibahas matang baik buruknya pengadaan impor minyak jenis Zapati oleh direksi maupun komisaris.
Β 
"Itu masalah lama sudah dibahas dalam beberapa bulan, bahkan sudah dibahas dan ada pendapat komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Tapi tidak ada kerugian," ujarnya sebelumnya di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Jumat (17/10/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ari, sejak awal impor Zapati dilakukan dengan perhitungan bahwa minyak jenis ini lebih murah. Dan ternyata setelah digunakan, minyak ini juga tidak menyebabkan kerugian.

"Kenapa Zatapi dipilih, karena harganya murah, ternyata diproses tidak menyebabkan kerugian. Jadi prediksi awal yang menyatakan dia lebih murah dan menguntungkan, itu betul," katanya.

Terkait proses penggeledahan kantor pusat Pertamina yang dilakukan Mabes Polri, Ari menyatakan, kepolisian memang sudah dilakukan penyitaan dokumen.

"Kita hormati proses hukum, bahwa telah dilakukan penyitaan dokumen, dan data-datanya benar. Namun kita lihat harus dilakukan dengan adil, wajar, fair," katanya.

Ari siap diperiksa sebagai bagian dari proses penyidikan polisi. "Semua itu bagian dari proses penyidikan ya kita tunggu saja," ujarnya. (lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads