Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (17/10/2008) malam.
"Kan (penurunan di level US$ 70 per barel) ini baru 1-2 hari, kan kita belum tahu, masih kayak roller coaster. Kita tidak mau berandai-andai," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan perhitungannya tidak hanya harga minyak saja, tapi juga kurs. Kurs kan Rp 9.800/US$. Harga internasional masih di atas harga domestik kita," jelasnya.
Namun Anggito membantah jika pemerintah tidak ingin harga BBM dalam negeri diturunkan. "Kan masih krusial tidak hanya satu faktor saja, pertimbangkan harga dan kurs," katanya.
Selain itu, Anggito mengatakan harga minyak (ICP) rata-rata Januari-Oktober 2008 masih di atas US$ 100 per barel. "Jadi masih cukup tinggi dibanding subsidinya. Karena kita sendiri menghitung tidak satu dua hari, tapi sepanjang tahun," pungkasnya.
Sementara harga minyak mentah dunia yang pada perdagangan Kamis (16/10/2008) sempat berada di bawah level US$ 70 per barel, akhirnya kembali rebound.
Pada perdagangan Jumat (17/10/2008), kontrak New York untuk minyak jenis light pengiriman November naik 2 dolar ke level US$ 71,85 per barel.
Untuk minyak jenis Brent juga naik 3,28 dolar ke level US$ 69,60 per brel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah munculnya spekulasi bahwa OPEC akan menurunkan tingkat produksinya dalam pertemuan darurat yang akan digelar pekan depan. Pertemuan OPEC seharusnya baru digelar November, namun dipercepat menjadi pekan depan.
"Ancaman penurunan produksi OPEC dalam pertemuan pekan depan telah mengangkat harga minyak," ujar David Evans, analis minyak BetonMarkets.com seperti dikutip dari AFP, Sabtu (18/20/2008).
(dnl/qom)











































