Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, potensi gas Indonesia lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri karena akan menciptakan efek multiplier bagi ekonomi nasional.
"Efek multiplier dan nilai tambahnya bagi ekonomi nasional akan rendah kalau gas diekspor terus. Jadi, lebih baik fokus untuk domestik saja, tidak perlu latah ikut-ikutan bergabung dengan negara-negara yang gasnya memang besar-besar," katanya ketika dihubungi detikFinance, Kamis (23/10/2008).
Menurut Pri Agung, orientasi penggunaan gas Indonesia ke depan seharusnya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri domestik.
Karena melihat kondisi industri domestik sepert pupuk (PIM), industri keramik di Jawa Barat, dan PLN saat ini masih kesulitan mendapatkan gas.
"Mereka saja masih gak kebagian gas karena gasnya diekspor. Kok, masih tetap mau export oriented terus? Kalau orientasinya hanya ekspor dalam bentuk mentah untuk mengejar devisa, fenomena "obral" gas murah seperti kasus Tangguh pasti akan terulang lagi," katanya.
Menurut Pri Agung, ketiga negara itu memang mendominasi cadangan gas dunia. Jadi wajar saja mereka membentuk organisasi pengekspor gas.
Lihat saja cadangan gas Rusia yang mencapai 1682 TCF atau sekitar 47,7% cadangan dunia, Qatar 895 TCF (25,3%) dan Iran 992 TCF (28,1%).
Lalu bagaimana Indonesia? Cadangan gas Indonesia ternyata sangat kecil jika dibandingkan tiga negara tersebut. Cadangan gas terbukti (proven) Indonesia hanya 92 TCF atau hanya 1,5% dari total cadangan gas dunia.
"Jadi cukup rasional kalau negara-negara tadi berinisiatif membentuk organisasi pengekspor gas," lanjutnya.
Rusia, Iran dan Qatar memang sudah mengambil langkah awal untuk membentuk organisasi pengekspor gas. Seperti dilansir BBC, dalam pertemua di Tehran, perwakilan tiga negara itu akan membentuk komite tingkat tinggi gas alam.
Perwakilan ketiga negara itu adalah Menteri Perminyakan Iran Gholamhossein Nozari, Menteri Energi Qatar Abdullah al-Attiyah dan Chief Executive perusahaan minyak raksasa Rusia Gazprom.
Mereka akan bertemu kembali di Doha dalam beberapa hari ke depan.
"Tiga negara ini telah mencapai konsensus untuk membentuk organisasi gas, dan mempercepat implementasi dan persiapan statusnya," kata Nozari.
Pengumuman resmi pembentukan organisasi ini belum ada. Tapi al-Attiya menambahkan, "Pertemuan berikutnya di Rusia akan jadi saksi lahirnya organisasi ini," katanya.
(lih/qom)











































