Hubungan Dagang RI-Aljazair Terkendala Tarif dan Sistem Perbankan

Hubungan Dagang RI-Aljazair Terkendala Tarif dan Sistem Perbankan

- detikFinance
Kamis, 23 Okt 2008 18:23 WIB
Hubungan Dagang RI-Aljazair Terkendala Tarif dan Sistem Perbankan
Jakarta - Perdagangan Indonesia dengan Aljazair masih terkendala banyak permasalahan diantaranya tarif bea masuk, pajak penjualan yang masih tinggi dan transaksi perbankan yang masih konvensional yaitu belum menggunakan letter of credit (L/C).

Padahal peluang ekspor Indonesia ke Aljazair masih terbuka lebar, setidaknya sudah ada 54 lebih importir dalam Trade Expo Indonesia (TEI) yang berminat membeli terhadap produk manufaktur, perkebunan dan makanan dan minuman dan lain-lain.

Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Aljazair Yuli Mumpuni Widarso dalam acara diskusi di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2008 di Kemayoran, Jakarta, Kamis (23/10/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka masih banyak mengimpor, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari keset di depan rumah sampai di belakang semua di impor, ini peluang besar buat Indonesia," katanya.  

Menurutnya masalah perbankan menjadi kendala yang sangat menyulitkan. Ia mencontohkan banyak importir Aljazair, yang mengadu karena harus membayar 30% dibayar dimuka dengan L/C untuk pembelian furniture TEI.

Selain itu, permasalahan yang harus dipecahkan adalah masalah tarif yang tinggi, yang kedepannya perlu adanya penjajakan bilateral untuk memecahkannya. Misalnya untuk  tarif bea masuk bahan jadi yang konsumtif ditetapkan 30%, untuk komoditas seperti kopi dan teh di atas 40%.

"Ini pekerjaan rumah kita untuk negoisasi, membahas besaran tarif bea masuk di negeri itu," serunya.

Potensi jumlah penduduk Aljazair mencapai 38 juta dengan pendapatan per kapita US$ 4,5 juta per tahun dan pertumbuhan tahun ini ditaksir sebesar 5,5%.  

Aljazair adalah negara berkembang yang bergantung pada minyak dan gas sehingga belum mengenal industri kecil namun lebih mengenal industri besar seperti kopi, sawit, kakao, baja, besi, dan produk besar lainnya. Negeri ini merupakan penghasil minyak dan gas sebesar 98% dari total pendapatan Negara.

Perdagangan Indonesia Masih Terus Defisit

Ekspor Indonesia ke Aljaziar pada tahun 2006 mencapai US$ 155 juta, tahun 2007 mencapai US$ 169,9 juta dan untuk impor tahun 2006 US$ 201,5 juta, dan tahun 2007 mencapai US$ 180,4 juta.

"Perdagangan kita dengan mereka masih terus defisit karena kita banyak impor minyak dari sana," katanya.

Impor Indonesia dari Aljazair  masih didominasi oleh minyak bumi, sekitar 300 ribu barrel per hari. Dari total ekspor Aljazair, jumlah yang ke Indonesia hanya 0,30% sehingga Indonesia menempati urutan ke-24 untuk tujuan ekspor Aljazair.

Komoditi ekspor lainnya ke Indonesia adalah minyak zaitun dan anggur. Untuk impor Aljazair dari Indonesia hanya 0,61% dari total impor Aljazair sehingga Indonesia menempati urutan ke-27 untuk negara sumber impor. (hen/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads