Rupiah Melemah, Waralaba Asing Dalam Ancaman

Rupiah Melemah, Waralaba Asing Dalam Ancaman

- detikFinance
Jumat, 24 Okt 2008 16:05 WIB
Rupiah Melemah, Waralaba Asing Dalam Ancaman
Jakarta - Perkembangan ekonomi yang kurang menguntungkan membuat waralaba yang berasal dari luar negeri terancam bangkrut. Jika pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut, waralaba asing tinggal kenangan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Penasehat Waralaba Indonesia (Wali) Amir Karamoy disela Franchise & License Expo Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat (24/10/2008).

"Pertumbuhan waralaba asing sangat tergantung nilai tukar dolar. Kalau dolar masih Rp 10.000 mungkin masih 50:50 tingkat keamanannya. Tapi kalau sudah Rp 11.000, habis sudah. Waralaba asing pasti bakal rontok semua," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amir juga menuturkan sebagian besar waralaba masih berasal dari dalam negeri dan 30% sisanya dari luar negeri.

Permendag Hambat Pertumbuhan Waralaba


Bisnis waralaba dan lisensi di Indonesia di 2009 diperkirakan akan menurun. Jika tahun ini pertumbuhan bisnis waralaba dan lisensi mencapai 12%, maka pada 2009 hanya sekitar 7%. Menurutnya hal ini disebabkan terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan mengenai waralaba.

Jika dalam Permendag tersebut memutuskan waralaba sebagai alternatif investasi, artinya setiap usaha waralaba harus memenuhi standar kelayakan bisnis termasuk audit laporan keuangan. Meskipun demikian, peraturan ini memberikan dampak positif yang usaha waralaba yang lebih bagus.

"Dengan aturan itu, maka secara kuantitas pertumbuhan waralaba akan menurun, tetapi secara kualitas yaitu kesehatan usaha, kelayakan bisnis, semuanya jadi lebih bagus," katanya

Saat ini terdapat sekitar 700 waralaba dan lisensi di Indonesia. Lebih dari 50% usaha tersebut menawarkan usaha di bidang makanan.

Sementara itu perputaran uang di bisnis waralaba pada 2008 diperkirakan mencapai Rp 8 triliun. Angka ini mengalami kenaikan dibanding 2006 yang sebesar Rp 6 triliun.
 
Menurut Ketua Umum Waralaba Indonesia (Wali) Levita Supit, tingkat perputaran uang di bisnis ini sangat beragam.
 
"Ada yang mulai dari Rp 2 juta, sampai yang Rp 2 miliar. Jadi macam-macam sekali," katanya di tempat yang sama.
 
Dari perputaran uang sebanyak itu, yang mendominasi adalah waralaba dari dalam negeri. Karena waralaba dari luar negeri selain harganya mahal, bahan-bahannya juga sulit didapatkan.
 
Levita menuturkan, jenis waralaba yang paling berkembang belakangan ini adalah restoran (makanan), salon, dan jasa lainnya. Sementara yang mengalami kemunduran adalah bisnis yang terkait otomotif.
 
"Karena saat seperti ini mungkin tidak semua orang masih bisa membeli barang mahal. Tapi kalau makanan kan jadi keharusan," katanya.
(lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads