Pada penutupan perdagangan Jumat (24/10/2008) harga minyak di NYMEX jenis light untuk pengiriman Desember turun US$ 3,69 menjadi US$ 64,15 per barel.
Begitu pula dengan harga minyak jenis Brent North Sea di London turun US$ 3,42 menjadi US$ 62,05 per barel. Dalam perdagangan intraday di London harga minyak Brent bahkan sempat melemah ke US$ 61 per barel yang merupakan level terendah sejak Mei 2007.
Β
"Meskipun OPEC telah membuat keputusan memangkas produksi harga minyak tetap turun, karena pasar secara psikologis lebih terpengaruh pada muramnya pasar secara keseluruhan," kata Mike Fitzpatrick dari MF Global seperti dilansir dari AFP, Sabtu (25/10/2008).
Β
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada Jumat (24/10/2008) mengumumkan pemangkasan produksi 1,5 juta bph yang berlaku efektif 1 November 2008. Pemangkasan produksi ini diharapkan bisa menstabilkan harga minyak agar tidak terlampau jatuh di tengah resesi dunia saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Dresdner Kleinwort, Peter Fertig mengatakan harga minyak mentah memang cenderung turun sehingga pemangkasan produksi oleh OPEC tidak begitu efektif mengingat permintaan minyak yang terus turun selama masa krisis ini.
Sementara James Williams dari WTRG Economics melihat pemangksan produksi 1,5 juta bph karena terkait dengan turunnya konsumsi minyak di AS sebesar 200 ribu unit, AS merupakan konsumen terbesar minyak dunia.
Β
OPEC yang beranggotakan 12 negara produsen minyak menguasai 40% pasar minyak dunia. Negara OPEC sangat menikmati kenaikan harga minyak tahun ini yang sempat mencapai US$ 147 per barel namun secara dramatis terus mengalami penurunan tajam hingga ke US$ 64 per barel.
Turunnya produksi OPEC juga ditanggapi sinis oleh negara-negara barat. Gedung Putih bahkan menyebut OPEC sebagai anti pasar karena penurunan terjadi saat ini adalah imbas dari resesi global yang membuat permintaan ikut turun.
Sedangkan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyatakan kekecewaannya atas keputusan OPEC tersebut dan menilainya sebagai keputusan yang tidak bertanggung jawab dalam kondisi ekonomi yang sedang krisis. (ir/ir)











































