Menurut mantan Gubernur OPEC untuk Indonesia sekaligus Komisaris Pertamina Maizar Rahman, besar kemungkinan harga ICP (Indonesia Crude Price) ikut tergelincir hingga di bawah US$ 60 per barel.
"Sampai akhir tahun ini saya prediksi harga minyak masih sekitar US$ 60-70 per barel. Bisa dibawah itu malah," kata disela-sela rapat dengan Komisi VII di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (27/10/2008).
Ia menjelaskan, dalam keadaan normal memang seharusnya pemotongan produksi minyak anggota OPEC akan berpengaruh ke harga minyak. Tapi dengan kondisi sekarang yang tidak normal, maka langkah OPEC ini bisa jadi sia-sia.
"Sekarang kondisi belum normal karena dipengaruhi krisis keuangan. Sehingga di pasar berjangka terjadi pelepasan minyak secara besar-besaran, dan ini berpengaruh ke harga. Jadi pemotongan OPEC nggak berpengaruh," katanya.
Pergerakkan harga minyak yang tidak normal memang sudah terjadi sejak pertengahan 2007. Dimana saat itu harga minyak tidak lagi ditentukan dari tingkat pasokan dan permintaan melainkan spekulasi.
Sedangkan semenjak pertengahan 2008, faktor yang paling berpengaruh adalah kondisi keuangan AS.
"Karena itu kita tunggu saja sampai stabilisasi, dengan begitu maka fundamental bisa berpengaruh. Tapi itu mungkin baru terjadi tahun depan," katanya.
(lih/qom)











































