Rupiah Turun, Eksportir Untung Tapi Tidak Nyaman

Rupiah Turun, Eksportir Untung Tapi Tidak Nyaman

- detikFinance
Selasa, 28 Okt 2008 09:05 WIB
Rupiah Turun, Eksportir Untung Tapi Tidak Nyaman
Jakarta - Lemahnya rupiah hingga ke titik 11.000 per dolar AS telah mendongkrak pendapatan atau omset eksportir dalam negeri hingga 25%. Meski untung, eksportir mengaku tidak nyaman dengan rupiah di 11.000 per dolar AS.

Eksportir merasa tidak nyaman dengan pelemahan rupiah sekarang ini, karena selain mendorong kenaikan harga beli, fluktuasi kurs mengganggu perencanaan dalam perhitungan cashflow para eksportir.

Kenaikan  pendapatan justru tidak sebanding dengan penurunan ekspor beberapa produk, bahkan kurs yang tidak stabil memicu tuntutan kenaikan upah pekerja, yang akan sulit diturunkan kembali ketika kurs sudah turun lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang  secara pendapatan, misalnya furnitur, pada posisi rupiah 9.200/US$ dengan total ekspor US$ 10 juta maka bisa peroleh Rp 9 miliar. Dengan posisi sekarang ini bisa Rp 11 miliar. Sayangnya jumlah ekspor furnitur pun turun, sampai 40% hingga 60%," kata Sekretaris Jenderal  Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Totok Dirgantoro saat dihubungi detikFinance, Selasa (28/10/2008).

Dikatakan Totok, fluktuasi rupiah justru kurang menguntungkan, ia mencontohkan untuk ekspor-ekspor produk agro. Disatu sisi ekspor itu terdongkrak karena nilai dolar AS yang tinggi, tetapi disisi lain importasi obat-obatan untuk pertanian juga ikut naik.

"Eksportir bukan berada pada kondisi yang sangat diuntungkan justru kita lebih senang rupiah stabil, sehingga dalam patokan berbisnis kita mudah berhitung," ujarnya.

Ia menambahkan kurs dolar AS yang menguat terhadap rupiah memicu kalangan petani untuk meminta kenaikan harga penjualan ke eksportir karena naiknya harga-harga obat bidang pertanian. Sedangkan untuk ekspor di sektor manufaktur justru akan mendorong kalangan pekerja yang menuntut kenaikan upah yang ujung-ujungnya memberatkan industri.

"Kalau pun diposisi 11.000/US$ stabil, itu pun terlalu tinggi karena daya beli pasti berkurang karena harga juga bakal naik, idealnya di 9.200/US$ seperti bulan-bulan lalu, yang datar selama beberapa bulan," katanya. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads