Β
Ha itu dikemukakan oleh Sekretaris Kementerian Negara BUMN M Said Didu yang ditemui di kantornya di Gedung Garuda, Jakarta, Selasa (28/10/2008).
Β
"Saya minta seluruh PTPN bisa menekan cost guna mengantisipasi harga CPO yang anjlok. Semua kebutuhan yang tidak terlalu penting, seperti upacara atau kunjungan dihilangkan saja," ungkapnya.
Β
Menurutnya, harga CPO yang sempat mencapai angka tertinggi US$ 1300 per ton itu sangat tidak normal. "Dulu saja US$ 750 per ton itu sudah sangat tinggi," katanya.
Β
Ia pun menghimbau agar seluruh perencanaan biaya PTPN dipatok dengan berpedoman harga CPO di US$ 500 hingga US$ 600 per ton.
"Cost perusahaan sawit harus dirancang pada harga itu, jadi kalau harganya naik lagi berarti windfall," imbuhnya. (ang/qom)











































