Hal tersebut disampaikan Sesmenneg BUMN M Said Didu yang ditemui di kantornya di Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (28/10/2008).
"Kalau memang butuh dolar bisa dari penjualan saja, jangan pinjaman. Coba kurangi permintaan dolar, kalau akan melakukan kontrak lebih baik pakai rupiah saja, kecuali terpaksa pakai dolar," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagian besar BUMN itu netral saja menghadapi kurs, karena kebanyakan komponen dananya menggunakan rupiah," katanya.
Ia juga mengatakan, selama ini penggunaan dolar di BUMN jumlahnya kecil sekali, jadi tidak ada pengaruh yang signifikan. Seperti contohnya pada biaya produksi seluruh PT Perkebunan Nusantara (PTPN), penggunaan dolar hanya sekitar 2 persen dari total biaya produksi.
Walau begitu, ia tetap menghimbau agar seluruh BUMN dapat melakukan perencanaan dengan lebih baik lagi. Terutama untuk bisa meminimalisir biaya yang sumber dananya menggunakan dolar. (ang/ddn)











































