Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Gabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi) Amirudin Saud saat dihubungi detikFinance, Selasa (28/10/2008).
"Total impor anggota Ginsi tahun 2007 mencapai US$ 65 miliar sekarang turun 5%, karena ada perubahan kurs ini, biar hanya 5% itu gede loh," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memperkirakan apabila hingga Januari tahun 2009, kurs rupiah masih melemah, dampak total pelemahan akan sangat terasa bagi para importir karena harus membuka kontrak baru dengan kurs yang baru.
"Kalau sekarang 3 bulan sebelum barang tiba sudah di transfer uangnya, terutama untuk impor bahan baku," jelasnya.
Hampir rata-rata pertahun komposisi impor barang modal mencapai 18% dari total impor, untuk konsumi (barang jadi) hanya 5%, sedangkan impor bahan baku menempati angka terbanyak yaitu 77%.
"Khusus barang jadi karena sekarang dolar naik, yang biasa mengimpor 100 ton sekarang hanya menjadi 10 ton jadi nyicil terutama barang jadi," katanya.
Mengenai rencana pemerintah akan menaikkan pajak barang impor khusus barang-barang konsumtif (barang jadi), ia mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah asalkan besarannya tidak melebihi ketentuan WTO terutama soal tarif.
"Boleh-boleh saja asal sesuai yang ditentukan oleh WTO, berapa maksimal misalnya elektronik sekarang bahan baku 10% sampai 5%, jadi semacam ada tambahan pajak pertambahan nilai, kalau itu boleh saja," kilahnya.
(hen/ddn)











































