Demikian disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil di Gedung Kementrian Negara BUMN, Jakarta, Kamis (30/10/2008).
"Fungsi finance BUMN akan di-outsource ke perusahaan multinasional. Sehingga si FO (finance Officer) juga akan diaudit pihak lain," katanya.
Menurut Sofyan, keputusan ini bermula dari keprihatinanya atas banyaknya pejabat BUMN yang tidak mengerti masalah keuangan.
"Banyak komisaris BUMN yang nggak tahu EBITDA. Banyak yang nggak ngerti finance. Jadi fungsi finance akan di-outsource ke perusahaan multinasional saja," katanya.
Dengan di-outsource ke pihak lain, diharapkan bisa mendeteksi kebocoran-kebocoran keuangan di BUMN. Jika benar ditemukan kebocoran, maka bisa diketahui penyebabnya dan bagaimana solusinya agar tidak terjadi lagi.
"Seperti Kereta Api, misalkan uang tiket yang harusnya masuk Rp 1 triliun, harusnya benaran Rp 1 triliun. Atau Pertamina, kalau belanja dia wajarnya keluar US$ 1 miliar, ya nggak boleh lebih dari itu," ujarnya.
Meski pengelolaan keuangan BUMN akan di-outsourcing, namun Sofyan menegaskan posisi Direktur Keuangan akan tetap dipertahankan. (lih/qom)











































