Menurut Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, penurunan harga BBM perlu dilakukan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat dan memperkuat daya konsumsi.
"Penurunan harga BBM bersubsidi sangat besar artinya bagi puluhan juta keluarga. Pengeluaran untuk biaya transportasi pasti berkurang. Selisihnya bisa digunakan untuk memperkuat daya konsumsi keluarga. Patut digarisbawahi, konsumsi keluarga menurun tajam sejak harga BBM dinaikan pada 2005," katanya kepada detikFinance, Senin (3/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan hanya mencakup kepentingan menjaga perimbangan APBN, tetapi juga urgensinya bagi rakyat. Penurunan harga BBM bersubsidi mestinya dilihat sebagai solusi bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat," tuturnya.
Menurutnya, pernyataan dan hasil perhitungan Panitia Anggaran DPR pun mestinya dilihat sebagai rekomendasi DPR kepada pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi.
"Menurut Panitia anggaran DPR, dari turunnya harga minyak dewasa ini, pemerintah telah mengehmat subsidi Rp 10 triliun. Konsumsi BBM dalam negeri Rp 6 miliar liter per bulan dan pemerintah menghemat sekitar Rp 1.600 per liter. Dari penghematan itu, harga premium dan solar bersubsidi bisa diturunkan Rp 800 per liternya," paparnya.
Dikatakan Bambang harga BBM yang lebih murah dari sekarang pun akan mendorong masyarakat berinisiatif untuk mandiri, terutama mereka yang menjalankan usaha atau industri rumah maupun usaha informal lainnya. Sedangkan pada skala UMKM, penurunan harga BBM bersubsidi akan diterima sebagai faktor yang menurunkan biaya produksi.
"Di sisi distribusi, terjadi penurunan biaya, yang akan diikuti penurunan harga jual produk. Produsen pasti menurunkan harga, karena mereka tidak mau mati konyol dengan harga jual produk yang tinggi. Daya serap pasar (konsumen) akan bertambah, mendorong produsen menaikkan kapasitas produksi. Peningkatan kapasitas otomatis menyerap tambahan pekerja," jelasnya.
Kemudian, lanjut Bambang, pemerintah sendiri menerima keuntungan ganda. Selain sudah menghemat subsidi, beban pemerintah menanggulangi inflasi menjadi lebih ringan jika harga BBM bersubsidi diturunkan. Bahkan, jika kinerja perekonomian rakyat dan UMKM pulih, beban subsidi di APBN bisa diturunkan.
Alokasi subsidi untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Raskin (beras untuk warga miskin) misalnya, bisa berkurang karena kemandirian warga miskin dan para penganggur mulai terbangun.
"Artinya, kepada Presiden dan Wapres, para menteri ekonomi tak hanya mempresentasikan excercise tentang dampak penurunan harga BBM bersubsidi terhadap perimbangan di APBN, melainkan juga mempresentasikan excercise tentang dampak penurunan harga BBM terhadap perekonomian rakyat dan kesejahteraan rakyat," pungkasnya.
(dnl/qom)











































