Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (3/11/2008).
BPS mencatat inflasi Oktober sebesar 0,45%. Angka ini berarti lebih rendah ketimbang inflasi September yang tercatat 0,97%. Untuk inflasi year on year (yoy) tercatat sebesar 11,77%, sementara inflasi year to date tercatat sebesar 10,96%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang September itu menjadi puncak inflasi karena bulan puasa dan Lebaran, dan siklusnya seperti itu dalam 10-20 tahun terakhir. Sementara di bulan Oktober, semua cooling down. Konsumsi normal, harga juga suda normal, karena itu inflasi hanya 0,45%," jelas Rusman.
Ia mengakui bahwa pada bulan Oktober seharusnya terjadi deflasi. Namun untuk Oktober ini terjadi inflasi terutama karena kenaikan harga ikan segar.
"Kenapa tetap inflasi, karena yang terutama itu harga ikan segar, ini menjadi kontributor utama inflasi dan dia menjadi bintang lapangan. Memang ini paling jarang kita bicarakan,biasanya kan BBM atau minyak goreng, tapi ternyata ini ikan segar," jelas Rusman.
BPS mencatat, selama Oktober harga ikan segar naik 3,48% dan memberi kontribusi 0,11% kepada inflasi 0,45%. Penyumbang inflasi terbesar kedua adalah emas dan perhiasan. Dengan naiknya kurs dolar, emas perhiasan naik harganya dan memberi sumbangan 0,05% dari 0,45%. Disusul daging ayam ras, dengan sumbangan inflasi 0,04%, kentang 0,03%.
Namun demikian, lanjut Rusman, ada juga kontributor deflasi Oktober yakni minyak goreng menyumbang deflasi 0.05%, cabai merah 0,03%, cabai rawit 0,03%.
(qom/ddn)











































