BPS mencatat, nilai ekspor kumulatif selama 9 bulan pertama 2008 itu berarti meningkat 29,69% dibandingkan periode yang sama tahun 2007.
"Secara kumulatif sudah mencapai US$ 107,65 miliar, untuk tahun ini dalam 9 bulan saja sudah tembus US$ 100 miliar, tahun lalu 10 bulan baru US$ 100 miliar," urai Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (3/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor turun tajam karena ekspor migas, bukan non migas. Jadi ekspor non migas walau komoditas yang berbasis sumber daya alam turun harganya, tapi ekspornya tetap naik. Jadi ekspor ini turun karena harganya turun. Memang kita tahu, disatu pihak dengan harga minyak yang turun, beban produksi turun tapi ekspor kita juga turun nilainya," jelasnya.
BPS juga mencatat ekspor RI ke AS selama September mencapai US$ 1,227 miliar, meningkat dibandingkan bulan Agustus sebesar US$ 1,085 miliar. Sementara secara kumulatif, ekspor RI ke AS dari Januari sampai September tercatat sebesar US$ 9,743 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2007yang sebesar US$ 8,379 miliar.
"Ekspor ke AS tetap terjadi kenaikan. Ini bisa jadi karena kontrak ekspor itu telah disepakati 2 atau 3 bulan sebelum puncak krisis terjadi," jelas Rusman.
"Tapi ekspor 2008 saya kira masih aman, karena kita tidak kena first round effect dari krisis global. Namun untuk 2009, target ekspor saya kira perlu direview karena dikhawatirkan ada second round effect dari krisis global yang terjadi," imbuhnya.
Neraca Perdagangan RI Surplus US$ 1,02 Miliar
Untuk nilai impor Indonesia selama September 2008 mencapai US$ 11,21 miliar atau menurun 5,53 persen dibanding Agustus 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$ 2,52 miliar (22,49 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 8,69 miliar (77,51 persen).
Sedangkan selama Januari-September 2008 nilai impor Indonesia mencapai US$ 101,09 miliar dengan impor migas sebesar US$ 25,90 miliar (25,62 persen) dan impor nonmigas sebesar US$ 75,19 miliar (74,38 persen).
Dengan posisi tersebut, maka neraca perdagangan Indonesia untuk September mencatat surplus US$ 1,02 Miliar. Surplus ini lebih besar dari surplus perdagangan pada Agustus yang sebesar US$ 635 juta. (qom/ir)











































