Hal ini dikatakan oleh Wakil Direktur Utama PLN Rudiantara saat ditemui di kantor Menneg BUMN Senin malam (3/11/2008).
"Tentunya kalau harga minyak turun drastis hingga akhir tahun maka subsidi akan turun di bawah angka Rp 88 triliun dan di atas Rp 61 triliun, hanya di atas Rp 61 triliunnya kita nggak tahu berapanya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga jual minyak Pertamina tidak hari itu turun langsung jual ke kita, karena setahu kami Pertamina beli minyaknya duluan yang beli lama harganya yang itu MOPS, pokoknya ada time leg, kalau harga minyak turun mungkin akan dirasakan kemudian, ada mekanismenya," jelas Rudi.
Namun ia memastikan subsidi listrik tidak akan berkurang di bawah asumsi awal 2008 yaitu Rp 61,01 triliun, karena harga minyak mengalami penurunan terjadi pada penghujung tahun dan harga Indonesia crude price (ICP) rata-rata masih diatas asumsi APBNP 2008.
"Harga minyak naiknya panjang sejak Maret, jadi rata-rata keseluruhan harga minyak masih di atas ICP US$ 95 per barel kalau sekarang masih diatas US$ 100 rata-rata, hari ini memang jauh di bawah itu," ujarnya beralasan.
Pada APBN 2008 subsidi listrik ditetapkan Rp 61,01 triliun, saat kenaikan harga minyak di pertengahan tahun PLN dan pemerintah mencoba menghitung kembali, sehingga menghasilkan perhitungan pembengkakan subsidi hingga Rp 88 triliun.
"Saat itu ada nota keuangan antara Depkeu dengan DPR dihitung sampai Rp 88 triliun, pada saat dihitung harga minyak sedang tinggi," ucapnya.
Harga minyak pada perdagangan Senin (3/11/2008) di New York, untuk jenis light pengiriman Desember anjlok hingga 3,90 dolar ke level US$ 63,91 per barel.
Di London, minyak jenis Brent pengiriman Desember juga anjlok 4,84 dolar ke level US$ 60,48 per barel. (hen/ir)











































