Harga Minyak Indonesia Sudah Melorot ke US$ 70,66 per Barel

Harga Minyak Indonesia Sudah Melorot ke US$ 70,66 per Barel

- detikFinance
Selasa, 04 Nov 2008 10:03 WIB
Harga Minyak Indonesia Sudah Melorot ke US$ 70,66 per Barel
Jakarta - Harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang merupakan patokan dalam APBN sudah turun jauh hingga US$ 70 per barel. Harga ICP ini berarti jauh di bawah patokan APBNP 2008 yang sebesar US$ 95 per barel.

Berdasarkan data yang dikutip dari situs Departemen ESDM, Selasa (4/11/2008), harga minyak mentah Indonesia berdasarkan perhitungan formula ICP untuk bulan Oktober turun US$ 28,40 per barel menjadi US$ 70,66 per barel.

Harga Minas/SLC juga mengalami penurunan, yakni menjadi US$ 76,42 per barel dibanding bulan sebelumnya mencapai US$ 101,95 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan demikian, maka rata-rata harga ICP dari Januari hingga Oktober sudah mencapai US$ 95,641 per barel. ICP Oktober ini berarti merupakan yang terendah sepanjang tahun 2008. ICP bulanan tertinggi dicapai pada Juli, dengan rata-rata mencapai US$ 134,94 per barel.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro sebelumnya menjanjikan, jika harga ICP terus bertahan di US$ 70 per barel, maka harga BBM dalam negeri bisa segera diturunkan. Sementara Wapres Jusuf Kalla menyatakan, harga BBM bisa diturunkan jika rata-rata ICP sepanjang tahun 2008 bisa mencapai US$ 80 per barel.

Penurunan ICP tersebut seiring dengan penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang disebabkan oleh beberapa faktor, yakni masih merosotnya pasar saham global akibat Eropa meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pemberian kredit di sektor perekonomian sehingga dapat memicu resesi global.

Penurunan harga minyak juga disebabkan karena terus melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, terutama AS, Eropa, dan Asia. IEA merevisi perkiraan permintaan minyak dunia kuartal IV-2008, menurun 0,4 juta bph dibandingkan perkiraan bulan sebelumnya yang berarti terendah dalam 15 tahun terakhir. Selain itu juga disebabkan rendahnya tingkat pengolahan minyak di AS dan Eropa dalam bulan Oktober 2008 (khususnya AS yang mencapai 11,5 juta bph, terendah sejak 1996 sehubungan dengan terus menurunnya margin kilang.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Oktober 2008 dibandingkan bulan September 2008 adalah sebagai berikut:
  • WTI (Nymex) turun US$ 27,04 per barel dari US$ 103,76 per barel menjadi US$ 76,72 per barel
  • Brent (ICE) turun US$ 27,10 per barel dari US$ 100,78 per barel menjadi US$ 73,68 per barel
  • Tapis (Platt's) turun US$ 28,98 per barel dari US$ 106,54 per barel menjadi US$ 77,56 per barel
  • Basket OPEC turun US$ 27,20 per barel dari US$ 96,90 per barel menjadi US$ 69,70 per barel

Perkiraan ICP November

Sementara untuk ICP November 2008 diperkirakan berkisar antara US$ 64-68 per barel. Sedangkan untuk harga rata-rata WTI (Nymex) antara US$ 67-71 per barel dan Brent (IPE) antara US$ 66-70 per barel.

Menurut siaran pers dari Departemen ESDM, faktor-faktor yang diperkirakan memperkuat harga minyak adalah menurut IEA, permintaan minyak dunia pada kuartal IV-2008 diperkirakan meningkat 1,7 juta bph menjadi 87,6 juta bph dibandingkan kuartal III-2008.

Faktor utama penyebab lainnya adalah:
  1. Meningkatnya permintaan produk minyak, terutama heating oil untuk peningkatan stok guna menghadapi musim dingin
  2. Saudi Arabia melakukan pemotongan volume pengapalan minyak mentahnya ke Eropa dan Asia
  3. Kembali terjadinya masalah geopolitik di sejumlah negara produsen minyak seperti Nigeria, Iran, dan Irak
  4. Bank Sentral AS (The Feds) kembali memotong tingkat suku bunga.

"Sedangkan faktor-faktor yang dapat memperlemah harga adalah terus merosotnya pasar saham global, kekhawatiran pasar mengenai resesi ekonomi AS yang dapat memicu resesi global, terus melemahnya pertumbuhan perekonomian dunia, terutama AS, Eropa, dan Asia, serta meningkatnya stok mingguan minyak mentah komersial di AS," demikian siaran pers dari Departemen ESDM.Β  (qom/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads