Meski begitu, para pengusaha yakin harga besi ini bisa segera pulih dalam satu tahun kedepan sehingga kembali ke US$ 800/ton.
Demikian disampaikan Komisaris PT Jogja Magasa Iron, perusahaan yang mendirikan pabrik pig iron (pengolah pasir besi menjadi besi kasar) pertama di Indonesia, Lutfi Heyder di Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (4/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, harga besi mulai menurun tajam sejak dua bulan belakangan terutama ketika ekonomi dunia mulai melemah drastis. "Ditambah lagi China baru selesai Olimpiade, jadi permintaan turun," katanya.
Namun ia menegaskan, sekalipun dengan harga sekarang yang merupakan titik terendah, bukan berarti industri besi lantas menurun.
Seperti penambangan dan pabrik besi yang akan dikelolanya, Lutfi menyatakan harga besi saat ini masih cukup ekonomis dibandingkan biaya produksinya.
"Biaya produksi kami hanya sekitar US$ 90-140/ton. Karena batubara untuk pembangkit listrik misalkan, tersedia di Indonesia, gamping sebagai perekatnya juga ada di Indonesia," katanya.
Sementara pembangunan di kawasan Asia ke depannya diperkirakan masih akan terus tumbuh. Terutama di India dan China yang masih terus akan berkembang.
"Pembangunan di Asia, yang semuanya sekarang wait and see, mereka akan terus membangun. Seperti India dan China, pembangunan mereka akan masih terus berlangsung," katanya.
(lih/ddn)











































