Ekspor Kakao akan Anjlok 40%

Kuartal IV-2008

Ekspor Kakao akan Anjlok 40%

- detikFinance
Selasa, 04 Nov 2008 17:55 WIB
Ekspor Kakao akan Anjlok 40%
Jakarta - Nilai ekspor produk kakao dan turunannya diperkirakan akan mengalami penurunan pada kuartal IV-2008. Penyebabnya dipicu oleh permintaan yang mulai menurun di pasar internasional dan turunnya produksi kakao nasional.

Selain itu, kasus-kasus default (gagal beli) dibeberapa negara tujuan ekspor  menjadi pelengkap penurunan ekspor kakao Indonesia ke beberapa negara.

Hal ini dikatakan oleh Sekjen Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo)  Zulhefi Sikumbang disela-sela acara seminar sistem resi gudang, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (4/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kinerja ekspor kakao akan terpengaruh di kuartal terakhir dibandingkan dengan  kuartal III, II dan I, akan drop sampai 30% hingga 40% secara value," imbuhnya.

Namun demikian, Zulhefi mengaku bersyukur karena sekarang ini harga kakao masih cukup baik dan dapat diterima oleh para petani. Kisaran harga kakao sepanjang tahun 2008 ini berada dikisaran US$ 1700 per ton sampai  US$ 2000 per ton.

"Sekarang ini harganya US$ 2000 per ton walaupun sempat  US$ 3000  per ton, petani masih happy jadi tidak berada di posisi menahan, tapi posisi untuk menjual," jelasnya.

Ia pun masih optimistis kalau target ekspor kakao dan turunan pada tahun 2008 masih berada di kisaran US$ 1 miliar dengan volume tidak lebih dari 500.000 ton.

Revitalisasi Kakao Bisa Susutkan Produksi

Para petani kakao termasuk yang paling beruntung karena masih mendapatkan perhatian pemerintah, ditandai dengan suntikan dana hingga Rp 2,7 triliun untuk peremajaan kebun atau revitalisasi kakao. Rencananya program ini akan berlangsung hingga 3 tahun sejak tahun 2009 nanti.

"Kita menyambut baik program ini,  tapi memang efeknya secara volume  pasti akan turun, luasnya  sampai 200.000 hektar  kemungkinan akan menurunkan produksi hingga 100.000 ton," katanya.

Meskipun di titik lokasi perkebunan yang berada di luar sentra kakao seperti Papua, Nusa Tenggara, pada tahun depan sudah mulai ada tanaman baru yang akan berproduksi sebagai kompensasi dampak peremajaan perkebunan kakao di kawasan lain terutama  Sulawesi.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads