Selain itu, kasus-kasus default (gagal beli) dibeberapa negara tujuan ekspor menjadi pelengkap penurunan ekspor kakao Indonesia ke beberapa negara.
Hal ini dikatakan oleh Sekjen Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang disela-sela acara seminar sistem resi gudang, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (4/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, Zulhefi mengaku bersyukur karena sekarang ini harga kakao masih cukup baik dan dapat diterima oleh para petani. Kisaran harga kakao sepanjang tahun 2008 ini berada dikisaran US$ 1700 per ton sampai US$ 2000 per ton.
"Sekarang ini harganya US$ 2000 per ton walaupun sempat US$ 3000 per ton, petani masih happy jadi tidak berada di posisi menahan, tapi posisi untuk menjual," jelasnya.
Ia pun masih optimistis kalau target ekspor kakao dan turunan pada tahun 2008 masih berada di kisaran US$ 1 miliar dengan volume tidak lebih dari 500.000 ton.
Revitalisasi Kakao Bisa Susutkan Produksi
Para petani kakao termasuk yang paling beruntung karena masih mendapatkan perhatian pemerintah, ditandai dengan suntikan dana hingga Rp 2,7 triliun untuk peremajaan kebun atau revitalisasi kakao. Rencananya program ini akan berlangsung hingga 3 tahun sejak tahun 2009 nanti.
"Kita menyambut baik program ini, tapi memang efeknya secara volume pasti akan turun, luasnya sampai 200.000 hektar kemungkinan akan menurunkan produksi hingga 100.000 ton," katanya.
Meskipun di titik lokasi perkebunan yang berada di luar sentra kakao seperti Papua, Nusa Tenggara, pada tahun depan sudah mulai ada tanaman baru yang akan berproduksi sebagai kompensasi dampak peremajaan perkebunan kakao di kawasan lain terutama Sulawesi.
(hen/qom)











































