Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani berpendapat kebijakan tersebut akan dilakukan dengan melihat beberapa parameter, diantaranya kurs rupiah, harga minyak dan kebutuhan subsidi.
"Kalau mengenai timing-nya dan bentuknya kita akan lihat," ujarnya ketika ditemui di
kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa malam (4/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya sagala kemungkinan itu ada saat ini, dalam artian posibilitas kondisinya akan dilihat," jelasnya.
Meskipun harga minyak dunia sempat berada dibawah level US$ 70 per barel pemerintah
belum berani untuk menurunkan harga BBM dalam waktu dekat, padahal alasan pemerintah
sebelumnya pada Mei 2008 menaikan harga BBM sebesar 28,7% adalah karena harga minyak yang melebihi US$ 100 per barel.
Bahkan menanggapi pernyataan sebelumnya baik dari Dirjen Migas Evita Legowo maupun Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta yang sempat melontarkan kemungkinan turunnya harga BBM, Sri Mulyani enggan menanggapi hal tersebut.
"Saya senyum saja deh," imbuhnya.
(dnl/qom)











































