Tarif Transportasi Harusnya Ikut Turun

Tarif Transportasi Harusnya Ikut Turun

- detikFinance
Jumat, 07 Nov 2008 09:31 WIB
Tarif Transportasi Harusnya Ikut Turun
Jakarta - Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan untuk menurunkan tarif transportasi setelah menurunkan harga Premium. Penurunan tarif transportasi akan lebih menguntungkan masyarakat.
 
"Penurunan harga BBM bersubsidi itu akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, jika pemerintah menindaklanjutinya dengan menurunkan tarif transportasi, dan berupaya menurunkan harga barang," ujar Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Jumat (7/11/2008).

Masyarakat pasti mensyukuri keputusan pemerintah menurunkan harga BBM Premium bersubsidi itu, walaupun cara yang ditempuh pemerintah tidak taktis. Bahkan bisa menambah masalah.

Soalnya sambil menunggu jatuh tempo berlakunya harga baru BBM bersubidi, para distributor akan menunda pembelian pada tingkat harga sekarang. Bukan tidak mungkin dalam beberapa hari ke depan banyak SPBU akan mengurangi stok dengan akibat terjadi kelangkaan.
 
"Kalau harga baru mulai berlaku 1 Desember 2008, penurunan itu tak perlu diumumkan sekarang. Idealnya diumumkan pada 30 November tengah malam. Cara seperti ini bisa mengurangi masalah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal senada disampaikan ekonom Aviliani ketika dihubungi Kamis (6/11/2008).
 
"Kalau cuma Rp 500 sih nggak signifikan, nggak terlalu banyak gunanya. Industri tidak akan menurunkan harganya, begitu juga transportasi yang kemarin baru naik," ujarnya.

Menurut Aviliani, industri belum akan menurunkan harga produk mereka karena sudah menganggarkan harga BBM untuk rencana setahun. Apalagi penurunan ini terjadi di akhir tahun, sehingga akhirnya para industri merasakan keuntungan setelah terbebani saat kenaikan harga di akhir Mei 2008.
 
Aviliani menambahkan, sebenarnya pemerintah lebih baik menurunkan harga BBM pada 2009 saat UU APBN 2009 berlaku sehingga ada payung hukumnya.
 
Ia pun menyayangkan pemilihan waktu penurunan BBM dilakukan justru disaat masyarakat sudah mulai menggeser penggunaan BBM mereka dari BBM subsidi ke BBM keekonomian seperti Pertamax.
 
Untuk tahap selanjutnya, pemerintah harus membuat masyarakat memahami dan terbiasa dengan harga BBM yang naik turun. Karena bagi Aviliani, harga minyak dunia yang kini berada di kisaran US$ 60-70 per barel adalah harga fiktif. Jika dihitung berdasarkan supply demand, harga minyak harusnya di kisaran US$ 85-95 per barel.

"Jadi harus dibiasakan untuk turun. Karena kalau sudah turun begini, pasti susah untuk naik lagi. Kita berdoa saja Desember ini harga minyak tidak naik lagi," katanya. (lih/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads