Menurut Wapres Jusuf Kalla, perbedaan waktu pengumuman kenaikan dan penurunan harga BBM itu terkait dengan perhitungan yang rumit untuk kenaikan harga BBM.
"Kenapa di istana, karena menaikkan dan menurunkan itu berbeda. Kalau naik itu kan rumit, rumit kan mengumumkan. Harus diedit baik-baik dulu, harus mencatat. Tapi menurunkan kan tidak rumit, cukup tersenyum saja. Dan ini santai-santai saja, semua orang tersenyum," jelas Kalla di kantornya, Jakarta, Jumat (7/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beda menurunkan dan menaikkan. Kalau menaikkan, itu kan harus saat itu juga karena jangan sampai ada spekulasi, penimbunan. Tapi kalau turun, tidak mungkin kan Anda borong. Makanya kita tenang-tenang saja. Anda juga kan tenang-tenang saja," ujar Kalla sambil tersenyum.
Terkait penurunan harga BBM yang hanya berlaku untuk premium, Kalla mengatakan bahwa hal itu dikarenakan dana subsidi sudah tidak cukup. Hal senada juga disampaikan Dirjen Migas ESDM Evita Legowo. Meski diturunkan, lanjut Kalla, pemerintah masih memberikan subsidi BBM.
Untuk minyak tanah, pemerintah masih mensubsidi Rp 5.000 per liter, premium Rp 1.000 per liter dan solar Rp 1.500 per liter. Khusus untuk minyak tanah, subsidinya mencapai Rp 3 triliun per bulan.
"Jadi tetap disubsidi sesuai APBN. Kita tidak bisa berdasarkan usulan, tapi sesuai dengan APBN. Kalau nanti terlalu besar, subsidi kita over," pungkasnya.
Dengan subsidi minyak tanah tersebut, kata Kalla, harga minyak tanah di Indonesia yang hanya Rp 2.500 per liter merupakan yang termurah di dunia.
(qom/ir)










































