Angka ini lebih rendah dari perkiraan semula Kantor Perwakilan IMF di Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6,3 persen tahun 2009.
Demikian World Economic Outlook (WEO) yang dirilis IMF dan dikutip detikFinance, Jumat (7/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah sebenarnya merevisi target pertumbuhan tahun depan menjadi 6-6,1 persen dari sebelumnya 6,3 persen.
"Karena situasi krisis ini, pertumbuhan ekonomi yang telah disepakati dengan DPR sebesar 6,3 persen, pemerintah akan meminta revisi kepada DPR, menjadi antara 6-6,1 persen di 2009," ujar Menkeu Sri Mulyani awal Oktober lalu.
IMF menilai Indonesia di tahun 2008 dan tahun 2009 masih mengalami tekanan inflasi yang cukup tinggi meski sudah mulai melemah sehingga otoritas melakukan serangkain kebijakan moneter melalui suku bunga.
Namun IMF menyarankan agar kebijakan pengurangan inflasi melalui kebijakan moneter harus dilengkapi dengan fleksibilitas nilai tukar atau kebijakan fiskal lainnya.
Sementara itu pertumbuhan di negara berkembang Asia secara keseluruhan IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi mencapai 7,1 persen juga melemah dari tahun 2008 sebesar 8,3 persen.
Penurunan terutama bersumber dari China yang tumbuh 8,5 persen pada tahun depan dari sebelumnya 9,7 persen tahun ini. India juga melemah menjadi 6,9 persen pada tahun depan dari sebelumnya 7,9 persen pada tahun ini.
Gejolak di pasar finansial akibat krisis suprime mortgage AS masih menghambat prospek ekonomi dunia pada tahun 2009.
Ekonomi Amerika Serikat tahun depan akan minus 0,7 persen. Di lima belas negara Eropa, termasuk Belanda, penurunan ekonomi diperkirakan akan berkisar pada 0,5 persen.
Namun demikian ekonomi dunia pada 2009 masih tumbuh sekitar 2,2 persen. Ini terutama berkat pertumbuhan ekonomi di Asia. IMF pun meminta dunia untuk memberikan stimulus agar ekonomi bisa kembali bergerak.
Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan pemerintah sudah melakukan antisipasi pelemahan ekonomi dunia.
"Tida perlu khawatir semua sudah kita antisipasi dengan berbagai skenario kalau sampai terjadi pnurunan ekonomi. Ada range 5,5%-5,8%, ada range 5,8-6%. Tapi saya sampai saat ini masih optimistik tidak akan berkurang dari 6%. sehingga tidak perlu mengeluarkan bantalan yang sudah kita siapkan," ujarnya.
(ddn/qom)











































