3 Skenario Amankan Industri Baja RI

3 Skenario Amankan Industri Baja RI

- detikFinance
Minggu, 09 Nov 2008 10:45 WIB
3 Skenario Amankan Industri Baja RI
Bandung - Departemen Perindustrian telah membuat 3 skema pengamanan industri baja nasional terkait dampak krisis global yang diperkirakan akan mendorong produk baja asing menyerbu pasar dalam negeri.

Seperti yang dialami oleh negara-negara lainnya Industri baja nasional sekarang ini mengalami kelebihan suplai dengan tingkat harga yang lebih tinggi dari harga baja di pasar Internasional.

"Untuk baja kita sedah mengusulkan untuk melindungi industri di dalam negeri caranya adalah mengendalikan impor, kita usulkan ke Menko Perekonomian berdasarkan usulan dari asosiasi," kata Dirjen Industri, Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari dalam acara diskusi Departemen Perindustrian di Bandung, Sabtu malam (8/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada 3 instrumen yang telah diusulkan Departemen Perindustrian ke Kementerian Koordinator Ekonomi yang nampaknya akan disetujui untuk diterapkan, antara lain:

1. Pengendalian impor dengan  penerapan kewajiban Importir Terbatas (IT) atau tertentu dan Importir Produsen (IP) dengan adanya verifikasi. Sehingga bagi   IT  yang mengimpor baja harus sesuai dengan kuota baja yang dibutuhkan produsen pengguna yang biasa memperoleh dari IT. Jumlah impor harus sesuai dengan kontrak yang disuplainya ke produsen yang bersangkutan.

2. Menerapkan anti dumping, salah satunya yang telah dijajaki oleh komite anti-dumping Indonesia terhadap produk hot rolled plate (HRP) China, Taiwan dan Malaysia.

3. Menerapkan safeguard, apabila  terjadi lonjakan impor dan berdampak injuries bagi produsen baja dalam negeri.

"Ini sudah dibicarakan dengan menko rabu kemarin, teman-teman di menko akan men-support, mengenai masalah izin IP, IT dan safeguard adalah dari depdag," ungkapnya.

Ansari mengakui sebelumnya ada satu usulan yang dianggap tidak akan efektif jika diterapkan yaitu usulan mengenai kenaikan tarif karena Indonesia sudah banyak melakukan kesepakatan bilateral terkait penurunan tarif seperi dengan China, Jepang, Korea dan lain-lain.

"Masalahnya kita sudah ada  perjanjian bilateral, berapa pun kenaikan, tidak akan menghambat, instrumen tarif tidak akan efektif, instrumen itu di-drop tapi kita akan harmonisasi untuk produk tertentu," katanya.

Instrumen tarif yang akan diharmonisasi antara lain khusus untuk produk kawat dan paku. Tarif bea masuk paku akan dinaikan dari 7,5% menajdi 12%, sedangkan wire rod akan dinaikan menjadi 10%.

"Dari tiga tadi yang paling efektif adalah pengendalian impor," ujarnya.

Semua instrumen tadi akan ditempuh oleh pemerintah demi melindungi industri baja dalam negeri, termasuk instrumen safeguard  dan anti-dumping yang diperkirakan bakal lama diterapkan karena perlu penyelidikan.

"November ini mudah-mudahan bisa mulai pemberlakuannya. Kalau keluar ini akan menjadi warning bagi para importir," serunya.

Stok Baja Dunia Berlimpah

Akibat permintaan baja yang melemah di pasar internasional sebagai dampak langsung krisis global. Suplai baja di dunia mengalami kelebihan stok termasuk dialami oleh produsen baja dalam negeri.

"Semua stok berlimpah belum bisa dihitung kerugian pabrik baja, mereka menunggu rupiah yang stabli, karena yang mereka produksi sekarang berasal dari bahan baku yang tinggi," kata Direktur Industri Logam I Putu Suryawirawan menambahkan.

Putu mengatakan setidaknya selama setengan tahun ini volume impor baja sudah sama dengan volumen impor tahun 2007. "Misalnya hingga  bulan Mei 2008 impor bahan  bahan baku  baja sudah 3 juta ton, sedangkan tahun 2007 cuma 1,6 juta ton," imbuh Putu.

Ia mencontohkan produk baja plat asal China kini mengalami kelebihan hampir 50 juta ton, ditambah beberapa produsen baja lainnya seperti Taiwan, India, Jepang, Korea dan lain-lain maka sudah dipastikan Indonesia akan kebanjiran baja asing jika tidak dikendalikan. "Jika  10%  saja ke sini saja kita mabuk itu pasti, itu harus cepat jadi uang," katanya.

Dikatakannya sekarang ini posisi produsen baja dalam negeri serba sulit, karena disatu sisi harus mampu menjual di pasar dalam negeri namun harganya lebih mahal dari harga baja di pasar  dunia yang kini kian luruh. " Kalau ikut harga dunia maka industri kita mati," kilahnya. (hen/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads