Pemerintah diminta menerapkan sanksi lebih tegas bagi produsen batubara domestik yang enggan mematuhi kebijakan domestic public obligation (DMO).
Selama ini disparitas harga batubara dalam negeri dengan harga pasar internasional sangat tinggi, dimana harga dalam negeri lebih mahal. Sehingga aksi menjual batubara ke luar negeri dipertanyakan, karena sulit bisa dikontrol
Hal ini dikatakan oleh Ketua Pesidium Masyarakat Energi dan Mineral Indonesia (MEMI) A. Supriatna dalam siaran pers Minggu (9/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu ia mendesak produsen domestik agar mementingkan pasokan batubara ke dalam negeri selain menerapkan harga batu bara di dalam negeri lebih kompetitif atau setidaknya sama dengan harga internasional.
"Saya tidak habis pikir, kenapa harga di dalam negeri lebih mahal ketimbang harga internasional. Apa salahnya produsen batu bara domestik menyamaratakan harga penjualan di dalam negeri? mereka pun berkepentingan akan kehandalan pasokan energi listrik ke kantor mereka," ujar Supriatna.
Menurutnya saat ini harga batubara di pasar internasional berkisar US$ 94 per ton, penawaran harga produsen dalam negeri kepada PLN mencapai US$ 115. Sedangkan harga Indonesia Coal Index (ICI) hanya sekitar US$ 109 per ton dengan tingkat kalori sekitar 6.320 kilo kalori.
Berdasarkan data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kebutuhan batubara untuk pembangkit pada tahun ini mencapai 56 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 35 juta ton.
Dengan lebih tingginya harga batu bara di dalam negeri ketimbang di pasaran internasional mengakibatkan sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar batubara terancam gagal memperoleh pasokan dari produsen domestik. Sehingga PLN harus mencari batubara dari dari pemasok luar negeri, seperti dari India Australia, Cina, dan lain-lain
"Sungguh ironis dan tidak masuk akal. Sebagai salah satu negara pemasok batu bara terbesar di dunia, bangsa kita sendiri malah kesulitan memperoleh batu bara lantaran harga domestiknya lebih mahal," ujar Supriatna.
Bahkan sejumlah pembangkit listrik tenaga uap utama di Pulau Jawa saat ini sedang mengalami kekurangan pasokan yang parah. PLTU Paiton unit 7 sampai 8 yang dikelola PT Paiton Energy Company.
Ia menjelaskan bahwa sampai saat ini pembangkit-pembangkit tersebut hanya memiliki cadangan batubara sebesar 10% atau 38.000 ton dari total kebutuhan pasokan untuk bulan November hingga Desember 2008 yang sebesar 300.000 ton.
(hen/ddn)











































