Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis ketika dihubungi detikFinance, Senin (10/11/2008).
"Harga Solar harusnya bisa turun mengikuti harga premium, sebab dari perhitungan saya dalam APBN-P 2008 ada penghematan anggaran Rp 10 triliun karena pemerintah menetapkan asumsi ICP US$ 115 per barel dan sampai September ICP ternyata ada di US$ 105 per barel jadi ada penghematan US$ 10 per barel," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan penurunan Solar jika dilihat dari kondisi anggaran bisa diterapkan pada November ini sebesar Rp 530 per liter, jadi kemungkinan penurunan harga Solar sangat besar. Persoalannya pemerintah memang terlihat politis, selain itu pemerintah juga berpikir apakah tren penurunan (harga minyak) masih terjadi," katanya.
Selain itu Harry juga mengatakan kondisi APBN-P 2008 masih aman, karena pemerintah masih mempunyai dana cadangan sebesar Rp 95 triliun dan dana cadangan tersebut memang diprioritaskan untuk menjaga kalau harga minyak terus naik.
"Tapi ternyata minyak turun sampai level US$ 60 per barel, jadi dengan masih amannya dana cadangan Rp 95 triliun apalagi pemerintah ternyata menaikkan harga BBM pada Mei 2008 lalu, jadi Solar masih bisa diturunkan," jelasnya.
Meskipun begitu, untuk minyak tanah, Harry mengatakan penurunannya tidak perlu karena hal ini untuk mendukung terealisasinya kebijakan konversi minyak tanah ke LPG yang memang tengah dilakukan oleh pemerintah. "Kalau untuk Solar memang sangat memungkinkan (turun), tapi untuk minyak tanah tidak perlu," ujarnya.
(dnl/ddn)











































