Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan pers di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Senin (10/11/2008).
Menurut Purnomo, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 11.000/US$ akhirnya membuat dorongan penurunan harga Solar tertahan. Padahal, penurunan harga minyak belakangan ini sudah cukup mendukung untuk penurunan harga Solar.
"Fungsinya bukan hanya harga, tapi juga nilai tukar rupiah. Ketika rupiah terus melemah, maka dibutuhkan harga keekonomian yang lebih tinggi lagi. Walau harga minyak turun, tapi kalau kurs rupiah turun, dia balance," katanya.
Selain patokan harga minyak dan nilai tukar rupiah, pemerintah juga harus memperhitungkan keseimbangan APBN agar tidak defisit terlalu banyak.
"Kita juga harus memikirkan keseimbangan APBN, bagaimana surplus dari pendapatan migas dibandingkan pengurangan APBN kalau harga diturunkan," katanya.
Tambahan Subsidi
Purnomo juga menjelaskan, jika harga Solar benar-benar diturunkan, artinya pemerintah harus menanggung tambahan subsidi lagi.
Jika menggunakan perkiraan Pertamina dimana konsumsi Solar mencapai 11-12 juta kilo liter per tahun, maka konsumsi rata-rata sebulannya sekitar 1 juta kilo liter.
Seandainya harga Solar juga diturunkan Rp 500 per liter pada 1 Desember 2008, artinya dibutuhkan tambahan subsidi Rp 500 miliar untuk sebulan terakhir di tahun ini.
"Kalau ICP diperkirakan US$ 55 per barel hingga akhir tahun, maka subsidi BBM dan LPG bisa Rp 139,2 triliun. Itu dengan per hitungan Premium Rp 5.500 di Desember dan lainnya seperti minyak tanah Rp 2.500 dan Solar Rp 5.500, kurs-nya Rp 11.000," katanya.
Jika kebutuhan tambahan subsidi dari penurunan Solar ditambahkan ke total subsidi yang diperkirakan Rp 139,2 triliun, maka total subsidi bisa menjadi Rp 139,7 triliun. Total subsidi ini jauh membengkak dari pagu subsidi BBM dan LPG di APBNP 2008 yang sebesar Rp 126 triliun, sehingga ada selisih Rp 13,7 triliun. (lih/ddn)











































