"Kita minta tidak boleh lebih tinggi dari harga ekspor terendah," kata Dirut PLN Fahmi Mochtar usai rapat dengan produsen batubara di Kantor Dirjen Minerbapabum di Jakarta, Senin (11/10/2008).
PLN berharap kesepakatan harga dengan para produsen ini bisa segera dicapai karena pasokan akan mulai masuk dalam waktu dekat. "Kesepakatan harga minggu ini, paling lambat minggu depan," katanya.
Selain itu, PLN juga membantah tudingan bahwa PLN sering ngemplang pembayaran utang. Bagi Fahmi, hanya satu atau dua pembangkit yang memang bermasalah pembayarannya yaitu PLTU Cilacap dan PLTU Suralaya.
"Dari pembangkit-pembangkit itu hanya satu dua yang jadi soal. Seperti Cilacap yang IPP," katanya.
Pembayaran pasokan batubara untuk PLTU Cilacap selama ini ditangani oleh pihak swasta, sampai kemudian PLN mengambil alih pembayaran untuk Adaro.
"Selama ini kita bayarnya ke IPP, sekarang kita mengambil alih untuk yang ke Adaro, tapi ada yang lain seperti Jorong dan Kideco," katanya.
Bagi Fahmi keterlambatan pembayaran yang kerap terjadi adalah proses yang wajar karena ada proses administrasi yang harus dilalui.
"Kalau batubaranya datang kan nggak langsung bayar,ada mekanisme administrasi sekitar satu bulan, itu masih normal," katanya.
(lih/qom)











































