JK: Dulu Urban Crisis, Sekarang Rural Crisis

JK: Dulu Urban Crisis, Sekarang Rural Crisis

- detikFinance
Selasa, 11 Nov 2008 13:36 WIB
JK: Dulu Urban Crisis, Sekarang Rural Crisis
Jakarta - Krisis ekonomi yang tengah melanda kali ini diyakini berbeda dengan krisis pada 1998. Jika 10 tahun lalu krisis menerpa industri perkotaan (urban crisis), kini giliran industri yang berbasis di daerah yang terhempas (rural crisis).

Demikian disampaikan Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya di acara Pertemuan Tahunan UNDP Regional Kawasan Asia Pasific di Hotel The Sultan, Jakarta, Selasa (11/10/2008).

"Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk krisis yang sekarang ini. Kalau 10 tahun lalu itu urban crisis, sekarang rural crisis," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK menjelaskan, pada krisis 10 tahun lalu industri yang merana adalah industri yang banyak bergerak di perkotaan seperti industri properti dan perbankan. Sementara pada krisis kali ini, yang paling merana adalah industri yang berbasis di daerah seperti industri komoditas.

Industri komoditas, menurut JK, terimbas krisis akibat anjloknya harga komoditas dibandingkan awal tahun 2008. Akibatnya, ekspor komoditas melemah dan pendapatan perusahaan pun turun. Bahkan daya beli di daerah pun ada yang merosot hingga 50%.

"Krisis sekarang mempengaruhi eskpor komoditas Indonesia. Harganya turun dari awal tahun, seperti minyak kelapa, karet dan kopi. Akibatnya pendapatan rural juga turun. Padahal komoditas sebagai pendapatan mereka, ini mempengaruhi juga industri lokal sehingga daya beli turun sampai 50%," katanya.

Kondisi di daerah yang seperti ini mau tak mau juga berdampak ke pendapatan pemerintah melalui penurunan pajak. Padahal pendapatan negara diperlukan untuk pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, jalan dan bendungan.

"Pajak menurun, pendapatan pemerintah juga turun. Biaya bangun infrastruktur juga turun seperti untuk jalan, pelabuhan dan bendungan. Ini bisa diatasi dengan kerjasama dengan lembaga-lembaga internasional," katanya.

Namun dampak krisis terhadap industri perkotaan kali ini diharapkan tidak terlalu parah. Hal ini bisa terlihat dari bisnis properti dan perbankan yang masih berjalan normal. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads