Hal ini menjadi suatu yang ironis ditengah upaya menghemat devisa negara ditengah krisis global. Karena kenyataannya, sekarang ini Indonesia masih sangat tinggi mengimpor aspal minyak sabagai substitusi asbuton.
Saat ini kebutuhannya aspal minyak mencapai 1,3 juta ton per tahun, namun pemenuhan dari dalam negeri hanya 600.000 ton oleh Pertamina. Artinya, sisanya harus masih diimpor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aspal beton dari sejak saya kecil di PU, yang menjadi masalah produksinya yang belum besar, sehingga pemanfaatannya pun rendah," kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dalam acara rapat dengar pendapat dengan PAH II DPD RI, Jakarta Rabu (12/11/2008).
Menurutnya, rendahnya produksi ini disebabkan oleh tekonologi pengolahan asbuton yang belum memadai dan adanya beberapa masalah konsesi eksplorasi asbuton oleh para investor asbuton.
Dari target pemanfaatan aspal beton sebesar 75.500 ton tahun 2007 ternyata tidak tercapai, produsen asbuton hanya menyediakan 4000 ton saja.
"Para produsen sempat saya kumpulkan ternyata yang dijanjikan itu 200.000 ton di produksi, saya berikan setengahnya (75.000 ton) ternyata itu pun tidak tercapai targetnya," ujarnya.
Target pemanfaatan asbuton dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan pada tahun 2008 hanya sebanyak 25.000 ton hingga september hanya mencapai 14.000 atau 56%, sampai akhir tahun 2008 17.500 ton. Tahun 2009 ditargetkan pemanfaatn bisa naik menjadi 50.000 ton.
"Sudah banyak pengusaha yang punya izin tapi nggak pernah disentuh sebaiknya dicabut yang kewenanganya itu kabupaten," katanya.
Selama ini pemanfaatan aspal beton diperuntukan untuk penanganan jalan lalu lintas ringan termasul lintas provinsi dan kabupaten, sedangkan untuk lintas berat biasanya menggunakan aspal minyak. Beberapa lokasi uji coba pemanfaatan aspal betol antaralain Kalimantan sepanjang 8 km, Pasuruan 6 km sekitara 2 km.
(hen/qom)











































