Demikian disampaikan Direktur Hulu Pertamina Karen Agustiawan disela Kongress Ikatan Alumni Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) di Gran Melia, Jakarta, Kamis (13/11/2008).
"Dari yang saya lihat, Pertamina mungkin around 40%, ya tetap mayoritas," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalaupun partner yang terpilih ternyata lebih dari satu, maka mereka diminta membuat satu konsorsium. Dengan demikian, menurut Karen, bisa mempermudah Pertamina dalam berkomunikasi untuk masalah operasional ataupun kepentingan lainnya.
"Soal jumlah company-nya saya nggak tahu, tapi mereka boleh buat konsorsium. Pertamina hanya melihat satu lead dari konsorsium itu. Mereka boleh berkonsorsium 3-4 perusahaan, tapi saya hanya lihat satu supaya tidak repot saat operasi," tuturnya.
Pemilihan siapa yang akan jadi partner Pertamina akan terlihat dari short list yang keluar dalam minggu ini. Menurut Karen, setelah tshort list itu keluar, mereka diminta mengajukan tawaran dalam rencana pengembangan Natuna.
"Short list akan keluar Jumat ini. Setelah itu, akan memberikan prevelege akan dihargai berapa. Sebelumnya kan sudah bicara mengenai masalah technical dan komersial. Di sini, kita tidak bicara uang, tapi kita bicara SDM. Swap aset apa yang bisa mereka berikan karena kita butuh produksi," katanya.
Pertamina mengantongi hak pengelolaan blok Natuna setelah kontrak ExxonMobil di wilayah ini diputus pemerintah. Pengembangan gas di Natuna terbilang sulit karena kadar CO2 yang mencapai 70% sehingga dibutuhkan teknologi canggih untuk memisahkan CO2 dengan gas yang akan diambil.
Pertamina pun kini tengah mencari partner yang memiliki kompetensi di teknologi ini sekaligus memiliki modal yang cukup untuk mendanai proyek raksasa ini.
(lih/qom)











































