Pertamina Didesak Turunkan Harga Aspal

Pertamina Didesak Turunkan Harga Aspal

- detikFinance
Kamis, 13 Nov 2008 19:56 WIB
Pertamina Didesak Turunkan Harga Aspal
Jakarta - Harga minyak yang terus anjlok seharusnya juga membuat harga produk olahannya menurun. Namun hingga kini Pertamina belum juga menurunkan harga aspal, yang merupakan salah satu produk olahan minyak. Departemen Pekerjaan Umum (PU) pun mendesak Pertamina untuk segera menyesuaikan harga jual aspal minyaknya.

Aspal merupakan salah satu produk sampingan dari pengelolaan minyak mentah di kilang. Karena berbahan baku minyak mentah, seharusnya harga aspal juga ikut turun seiring menurunnya harga minyak mentah. Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah sempat berada dikisaran menyentuh US$ 54 per barel.

"Sudah seharusnya harga aspal turun, saat ini harga minyak sudah turun," kata Direktur Bina Teknik Danis Sumadilaga Ditjen Bina Marga usai acara konfrensi pers di Jakarta, Kamis (13/11/2008)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan pihaknya akan melakukan pertemuan dengan Pertamina pada 21 November 2008 untuk membicarakan masalah penurunan harga ini.

Meski demikian ia mengakui penurunan harga aspal memang masih mengalami hambatan karena kurs rupaih terhadap dollar AS yang masih tinggi yaitu berada di kisaran Rp 11.000 meski harga minyak mentah sudah luruh.

Namun kejelasan dari Pertamina dirasa penting, terutama karena sejak Agustus 2008 pemerintah belum menerima surat pemberitahuan harga aspal dari Pertamina yang biasanya dikirimkan tiap bulan.

Harga aspal saat ini berada dikisaran  Rp 6000 per kilogram. Padahal dengan harga minyak yang luruh seperti sekarang, harga aspal bisa turun hingga berada  dibawah  Rp 5000 per kilogram.

Seperti diketahui, kebutuhan aspal minyak dalam negeri bisa mencapai 1,3 juta ton dengan produksi dari Pertamina saja sekitar 600.000 ton, artinya masih ada setengah dari kebutuhan yang harus diimpor.

Beberapa tahun lalu pemerintah telah mengembangkan penggunaan aspal buton yang memilik kandungan deposit 100 tahun, sehingga kedepannya penggunaan aspal minyak bisa ditekan. Meskipun hingga kini produksinya masih sangat terbatas.

(hen/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads