Asia Bisa Jadi Motor Tangani Krisis

Asia Bisa Jadi Motor Tangani Krisis

- detikFinance
Jumat, 14 Nov 2008 09:06 WIB
Asia Bisa Jadi Motor Tangani Krisis
Jakarta - Negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang besar di Asia yaitu China, Jepang dan Korea harus bisa menjadi motor ekonomi dunia di tengah krisis keuangan global yang terjadi saat ini.

Ketiga negara ini bersama negara lain di Asia dapat mengambil tindakan serius dan terkoordinasi guna melindungi pertumbuhan ekonomi di dunia.

Hal ini tertulis dalam sebuah draft pemikiran yang akan disampaikan oleh beberapa ahli ekonomi di Indonesia pada pertemuan G20 di Washington pada 15 November 2008, draft yang diberi judul "Towards a Coordinated Macroeconomic Expansion Among China, Japan, Korea and other Asian Economies" tersebut diterima detikFinance dari Ketua BPK Anwar Nasution.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini adalah sebuah pemikiran di tengah situasi krisis saat ini, yang akan disampaikan oleh saya dan teman-teman ahli ekonomi pada pertemuan G20 di Washington," ujar Anwar ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/11/2008).

Dalam draft itu disebutkan resesi yang terjadi di AS dan sebagian negara di Eropa akan terjadi dengan hebat dan berlangsung lama.

Asia harus mengambil tindakan yang serius dan terkoordinasi untuk ekonominya guna melindungi pertumbuhan ekonomi di depan kondisi resesi di AS dan Eropa. Kebijakan tersebut berupa counter cyclical di dalamnya termasuk kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan nilai tukar.

Dengan mengambil kebijakan di dalam suatu koordinasi yang baik, ekonomi Asia dipercaya akan tumbuh lebih baik dan akan lebih tahan, daripada kebijakan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing negara.

Kepemimpinan di Asia Tenggara oleh 3 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar yaitu Cina, Jepang dan Korea, maka akan banyak negara di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Oceania yang akan bergabung dalam mendukung kebijakan counter cyclical itu.

Selain itu juga dikatakan, pengaruh dari resesi di AS yang akan menurunkan perekonomiannya harus diperhatikan. Utang domestik AS sudah sangat banyak setelah sekian lama tabungan masyarakat mereka negatif. Kondisi kredit di AS juga sudah semakin ketat sehingga penurunan tingkat konsumsi pasti terjadi.

Di draft itu juga dikatakan kondisi resesi di AS menyebabkan jumlah pemecatan tenaga kerja meningkat dan semua ini akan menimbulkan penurunan konsumsi yang tajam investasi swasta terganggu.

AS akan mengalami suatu penurunan ekonomi yang tajam, yang akan berdampak ke seluruh dunia. Imbas tersebut bisa termasuk didalamnya penurunan ekspor dari asia ke AS, pelemahan dolar AS, dan penarikan kredit dari bank di AS dan investor AS di Asia.

"Dalam pertemuan G20 di Wahington, kami merekomendasikan ekonomi utama di Asia bertemu di pertemuan tersebut dengan sebuah kerangka kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi. Ekspansi makroekonomi di Asia tidak hanya membantu untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di Asia sendiri dan tingkat tenaga kerja, tapi juga akan turut membantu menahan imbas perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di Asia juga berarti akan menambah penjualan produk-produk AS di pasar Asia, yang akan membantu menahan laju resesi di AS dan Eropa," tutur draft itu.

Oleh karena itu dengan alasan ini, kebijakan makro ekonomi yang terkoordinasi di antara Cina, Jepang dan Korea akan sangat dihargai oleh seluruh dunia.

Dalam hal itu dikatakan direkomendasikan langkah yang diambil dalam waktu dekat:

1. Mengumumkan bahwa Cina, Jepang dan Korea akan bekerja bersama dengan baik di antara mereka, bersama dengan beberapa negara di regional, untuk menjamin pertumbuhan ekonomi di Asia tetap baik meskipun  pelemahan ekonomi global terjadi untuk AS dan Eropa.

2. Menerapkan kerjasama antara bank sentral di ketiga negara untuk penyediaan fasilitas swap (swap lines), untuk memperpanjang swap lines seperti yang dilakukan The Fed baru-baru ini memperpanjang swap lines kepada Korea dan negara lain.

3. Menyingkirkan segala keterlibatan IMF dari operasi fasilitas swap (swap lines).

4. Mengumumkan kebijakan fiskal bersama, untuk tiap-tiap negara di ketiga negara tersebut. Cina contohnya akan fokus pada infrastruktur perkotaan, perumahan rakyat dan potongan pajak. Jepang and korea akan mengidentifikasi kebutuhannya masing-masing. Pemerintah Jepang bisa juga ikut membeli saham guna menahan laju penurunan harga saham.

5. Mengumumkan sebuah kebijakan moneter bersama, seperti penurunan suku bunga bersama-bersama untuk ketiga negara tersebut.

6. Tiga negara tersebut harus mengumumkan bahwa mereka akan bekerjasama dalam penyesuaian nilai tukar, dan akan terus berusaha agar mata uang mereka relatif stabil terhadap dolar AS dan Euro terutama Bank of Japan akan menahan penguatan yang berlebihan dan akan bersama dengan The Fed dan ECB untuk mendukung Jepang dalam mengintervensi nilai mata uangnya jika dibutuhkan untuk menjaga Yen pada ksaran 100 Yen per dolar atau lebih.

7. Mendirikan sebuah komite yang terdiri dari anggota senior dari Departemen Keuangan dan bank sentral Cina, Jepang dan Korea untuk membuat sebuah paket counter cyclical yang terukur dan untuk memonitor krisis dalam sebuah tindakan yang terukur dan dalam.

(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads