SBY: Lindungi Sektor Riil dan Ubah Arsitektur Keuangan Dunia

Laporan dari Amerika Serikat

SBY: Lindungi Sektor Riil dan Ubah Arsitektur Keuangan Dunia

- detikFinance
Sabtu, 15 Nov 2008 09:57 WIB
SBY: Lindungi Sektor Riil dan Ubah Arsitektur Keuangan Dunia
Washington DC - Krisis keuangan global yang melanda AS dan merembet ke negara-negara lain harus disikapi dengan cepat. Menurut Presiden SBY, untuk mengatasi krisis ini ada tiga hal yang dilakukan: membangun kembali percaya diri, melindungi sektor riil, dan melakukan reformasi arsitektur keuangan internasional.

Pernyataan SBY ini disampaikan saat berpidato dalam acara makan siang yang digelar oleh Unites States-Indonesia Society (Usindo) Jumat (14/11/2008) waktu setempat atau Sabtu (15/11/2008) dinihari WIB. Hadir dalam acara ini sekitar 200 undangan dari berbagai kalangan. Dalam acara ini, SBY mendapat tepuk tangan berkali-kali dari para undangan, yang sebagian besar orang asing itu.

Tiga hal itu akan disampaikan SBY saat berpidato pada G20 Summit, Sabtu (15/11/2008). "Ketika saya pidato pada G20 Summit besok, saya akan menekankan perlunya melakukan aksi terkoordinasi dan bersama-sama pada tingkat nasional, regional dan global untuk memulihkan likuiditas, memperbarui percaya diri, dan memproteksi ekonomi riil," ujar SBY seperti dilaporkan wartawan detikcom di Washington DC, Endang Isnaini Saptorini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SBY juga menekankan pentingnya memproteksi kaum miskin di negara-negara berkembang, dengan menjamin bahwa budget pembangunan yang berpihak pada kaum miskin tidak dirugikan. Itulah mengapa SBY mengajukan  perlunya penguatan dana dukungan (support fund) global untuk membantu negara-negara berkembang menjaga pertumbuhan perekonomian mereka dan pembangunan yang berkelanjutan.

"Dengan dana dukungan ini, negara-negara yang sedang berkembang khususnya yang berada di Asia bisa menempatkan dirinya dengan lebih baik dalam bertindak sebagai sebuah mesin bagi pertumbuhan ekonomi dunia," jelas Presiden SBY.

Menurut Presiden, pendanaan ini memungkinkan terutama untuk menghidupkan negara-negara dengan pendapatan menengah dan memiliki siklus kehidupan minimum tiga tahun. "Jika disetujui, kita dapat meminta para menteri keuangan untuk merumuskan secara detil untuk 100 hari ke depan," pinta SBY.

SBY juga berharap penyelenggaraan G20 Summit di mana Presiden Bush menjadi pimpinannya akan menjadi titik mula dari sebuah proses yang akan mengarahkan kepada reformasi arsitektur keuangan internasional. Sebab, itu merefleksikan realita-realita abad 21.

Hadir dalam acara pertemuan Usindo ini, sejumlah pejabat Indonesia. Antara lain, Plt Menko Perekonomian yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani, Mensesneg Hatta Rajasa, dan Mendag Mari Elka Pangestu. (eis/asy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads