Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, dalam acara Media Gathering, di Cianjur, Sabtu (15/11/2008).
"MoU sudah dilakukan, untuk kontrak sedang dalam penggodokan, selesai pada akhir November, minggu depan akan bicarakan lagi," katanya.
Mustafa mengatakan saat ini sudah ada kesamaan kepentingan antara Bulog dengan beberapa pihak khususnya PTPN dan RNI. Untuk selanjutnya akan dibentuk formula awal sebagai konsep yang perlu dikonsultasikan dan dikomunikasikan kepada banyak pihak.
"Kita perlu masukan dari departemen pertanian, asosiasi-asosiasi, termasuk pelaku pasar. Mudah-mudahan konsepnya matang yang akan kita selesaikan satu minggu depan. Akhir November mudah-mudahan bisa rampung konsep kerjasama ini," katanya.
Dikatakannya bahwa Bulog tidak melakukan jual beli dalam distribusi gula , namun Bulog hanya diminta sebagai lembaga penyalur, dari gudang-gudang PTPN dan RNI.
"Tidak ada profit margin, yang ada hanya jasa agensi kepada Bulog dengan persentase. Keterlibatan Bulog dengan gula itu secara gradual tidak ambil ujug-ujug seperti Bulog masa lalu," katanya.
Ia menjelaskan dari 3 mata rantai distribusi gula sekarang ini, dengan adanya kehadiran Bulog maka penyaluran produk gula PTPN dan RNI bisa lebih efisien karena
"Katakanlah mengurangi mata rantai, sehinga bisa saja digabung D1 dan D2 atau D2 dan D3 saja. Dengan efisiensi mata rantai maka akan menyebabkan penghematan rupiah," jelasnya.
(hen/qom)











































