Seperti dilaporkan reporter detikcom Endang Isanaini Saptorini dari Washington DC, SBY berpidato setelah Presiden AS, Brazil, China dan India. Acara utama G20 ini digelar di Great Hall National Building Museum, Washington, Sabtu (15/11/2008).
Presiden SBY menyatakan semua pihak membutuhkan aksi yang cepat, terkoordinir dan kompak. "Kita semua harus fokus memprioritaskan pembaruan kepercayaan diri dan stabilitas sistem keuangan global. Dalam jangka menengah dan panjang, kita perlu menetapkan arsitektur keuangan internasional untuk membuat stabil dan berfungsi lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi yang dilakukan, kata SBY, harus dilakukan secara terus menerus di tingkat nasional, regional, dan global. Di tingkat nasional, masing-masing negara harus merespons secara cepat krisis ini dengan menjamin ketersediaan likuiditas, memberikan jaminan untuk memelihara kepercayaan dalam sektor perbankan, dan mengambil tahapan-tahapan yang diperlukan untuk mengunci kredit macet, termasuk dalam pembiayaan perdagangan.
Di tingkat regional, negara Asean dan Asean plus 3 harus lebih baik melakukan sinkronisasi kebijakan-kebijakannya, termasuk Chiang Mai Initiative (SMI). Ini diperlukan untuk menjamin keberlangsungsan aliran perdagangan dan investasi di kawasan regional.
Di tingkat global, SBY meminta G20 harus melakukan semua hal yang bisa meringankan kehancuran pengaruh-pengaruh dari krisis, terutama untuk negara-negara berkembang. "Karena itu, kita perlu membentuk semacam Global Expenditure Support Fund' untuk mendukung bujet keuangan," kata dia. Dukungan dana ini harus diberikan kepada negara berkembang yang benar-benar sangat membutuhkan.
Pada bagian lain, SBY juga menyatakan bahwa dalam rangka menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, koordinasi ekspansi fiskal dan menjaga pasar yang terbuka menjadi kunci prioritas. Hal ini sesuai dengan Doha Development Agenda (DDA) yang telah disepakati sebelumnya. (eis/asy)











































