Adalah CLSA Asia-Pacific Markets yang memangkas proyeksi harga CPO hingga 46 persen di tahun 2009, dari harga terkini CPO yang mencapai 1.455 ringgit (US$ 405 dolar) per ton. Sementara untuk tahun 2010, CLSA memperkirakan harga CPO akan turun hingga 32 persen.
Dalam laporan yang dikutip dari AFP, Senin (17/11/2008), CLSA memperkirakan harga komoditas ini akan diperdagangkan pada kisaran 1.000 ringgit (US$ 278) per ton pada tahun 2009 dan sekitar 1.250 ringgit pada tahun 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cadangan CPO Malaysia pada Oktober tercatat sebesar 2,1 juta ton, 14 persen lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Tingginya cadangan CPO itu disebabkan karena melonjaknya produksi dan melemahnya ekspor ke China dan Belanda. CLSA mengungkapkan, cadangan CPO di Indonesia bahkan lebih buruk kondisinya di Indonesia. Kejatuhan harga CPO itu kini memang membuat petani sawit di Indonesia semakin menderita.
"Kisah biofuel kini terus memudar, sehingga suport untuk permintaan berkurang. Kami juga skeptis tentang efektifitas prakarsa pemerintah untuk mendongkrak harga CPO," demikian laporan dari CLSA.
Sementara Buddhika Piyasena dari Fitch Ratings memiliki analisis yang berbeda. Ia menilai, harga saat ini sudah mencapai titik terendahnya, dan risiko untuk kejatuhan harga CPO lebih lanjut tampaknya sudah mulai terbatas.
"Kita mungkin melihat level harga saat ini akan terus menurun hingga 450 dolar per ton dalam beberapa waktu," jelasnya.
Malaysia dan Indonesia, yang kini menguasai 85 persen suplai CPO memang tidak berdiam diri atas kejatuhan harga CPO ini. Indonesia misalnya, terus menggerakkan industri biofuel dengan menerapkan mandatori Bahan Bakar Nabati (BBN). Kedua negara akan menjalin kerjasama untuk mewajibkan penggunaan BBN di industri.
Sementara Malaysia, seperti dikatakan oleh Deputi Menteri Komoditas Kohilan Pillay mengatakan, Malaysia akan mengurangi 200.000 hektar tanaman sawit tua termasuk menerapkan kewajiban menggunakan biofuel.
Malaysia akan menggantikan tanaman-tanaman tua yang sudah berusia lebih dari 25 tahun karena hasil panennya sangat rendah yakni hanya 17 ton per hektar per tahun. Pemerintah Malaysia akan memberikan insentif 1.000 ringgit untuk setiap hektar sawit yang ditanam kembali.
Piyasena yakin, jika kewajiban BBN benar-benar diterapkan oleh Indonesia dan Malaysia, maka bisa menyerap CPO hingga 1 juta ton.
(qom/qom)











































